MATA KULIAH : PMM - A
DOSEN PENGAJAR : KHIKI PURNAWATI KASIM , S.ST.,M.kes
LAPORAN PEMERIKSAAN BORAKS,FORMALIN,RHODAMIN B DAN METANHYL YELLOW PADA MAKANAN
DI SUSUN OLEH
NAMA : RISKI
NIM : PO714221161061
KELAS : D.IV / II B
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLTEKKES KEMENKES MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PROGRAM D IV
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Makanan adalah bahan, biasanya berasal dari hewan atau tumbuhan, yang dimakan oleh makhluk hidup mendapatkan tenaga dan nutrisi. Cairan yang dipakai untuk maksud ini sering disebut minuman, tetapi kata 'makanan' juga bisa dipakai. Istilah ini kadang-kadang dipakai dengan kiasan, seperti "makanan untuk pemikiran". Kecukupan makanan dapat dinilai dengan status gizi secara antropometri.Makanan yang dibutuhkan manusia biasanya diperoleh dari hasil bertani atau berkebun yang meliputi sumber hewan, dan tumbuhan. Beberapa orang menolak untuk memakan makanan dari hewan seperti, daging, telur, dan lain-lain. Mereka yang tidak suka memakan daging, dan sejenisnya disebut vegetarian yaitu orang yang hanya memakan sayuran sebagai makanan pokok mereka.Pada umumnya bahan makanan mengandung beberapa unsur atau senyawa seperti air, karbohidrat, protein, lemak, vitamin, enzim, pigmen dan lain-lain.
Dalam produksi pangan olahan sangat dibutuhkan berbagai bahan pendukung yang dapat membuat produk yang dihasilkan bercita rasa lezat, berpenampilan menarik, tahan lama, serta mudah dalam pengangkutan dan pendistribusian. Adapun bahan pendukung itu lazim disebut bahan tambahan makanan (BTM/Food additive) atau zat Aditif.Yang dimaksud dari BTM sendiri berdasarkan FAO-WHO adalah bahan-bahan yang ditambahkan secara sengaja ke dalam makanan dalam jumlah tertentu dan berfungsi untuk memperbaiki warna, bentuk, cita rasa, tekstur, dan memperpanjang masa simpan.
Bahan Tambahan Pangan (BTP) adalah bahan atau campuran bahan yang secara alami bukan merupakan bagian dari bahan baku pangan, tetapi ditambahkan kedalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan antara lain bahan pewarna, pengawet, penyedap rasa, anti gumpal, pemucat dan pengental.Didalam peraturan Mentri Kesehatan RI No.722/Menkes/Per/IX/88 dijelaskan juga bahwa BTP adalah bahan yang biasanya tidak digunakan sebagai makanan dan biasanya bukan merupakan ingredien khas makanan, mempunyai atau tidak mempunyai nilai gizi yang sengaja ditambahkan kedalam makanan untuk maksud tekhnologi pada pembuatan, pengolahan, penyiapan, perlakuan, pengepakan, pengemasan, penyimpanan atau pengangkutan makanan untuk menghasilkan suatu komponen atau mempengaruhi sifat khas makanan tersebut.
B. TUJUAN
a.Untuk mengetahui bagaimana pemeriksaan Boraks pada makanan
b.Untuk mengetahui bagaimana pemeriksaan Formalin pada makanan
c.Untuk mengetahui bagaimana pemeriksaan Rhodamin B pada makanan
d.Untuk mengetahui bagaimana pemeriksaan Methyl Yellow pada makanan
BAB II
LANDASAN TEORI
A. FORMALIN
Formalin adalah nama dagang larutan formaldehid dalam air dengan kadar 30-40 persen. Di pasaran, formalin dapat diperoleh dalam bentuk yang sudah diencerkan , yaitu dengan kadar formaldehidnya 40, 30, 20 dan 10 persen serta dalam bentuk tablet yang beratnya masing - masing sekitar 5 gram.Formalin adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk. Di dalam formalin terkandung sekitar 37% formaldehid dalam air. Biasanya ditambahkan methanol hingga 15% sebagai pengawet (Handayani, 2006). Formalin memiliki sejumlah nama kimia diantaranya formol, methylene aldehyde, paraforin, morbicid, oxomethane, polyoxymethylene glycols, methanol, formoform, superlysoform, formic aldehyde, formalith, tetraoxymethylene, methyl oxide, karsan, trioxane, oxymethylene dan methylene glycol (Nurheti, 2007). Formalin yang biasa ditambahkan pada makanan adalah larutan 30- 50% gas formaldehid, untuk stabilitas dalam larutan formalin biasa nya mengandung methanol 10-15%. Formalin mempunyai bau menyengat dan dapat menimbulkan pedih pada mata. Senyawa ini termasuk golongan aldehid paling sederhana karena hanya mempunyai satu atom karbon (Murtini dan Widyaningsih, 2006).
Fungsi formalin yaitu Formalin sudah sangat umum digunakan dalam kehidupan sehari- hari. Apabila digunakan secara benar, formalin akan banyak kita rasakan manfaatnya, misalnya sebagai antibakteri atau pembunuh kuman dalam berbagai keperluan jenis industri, yakni pembersih lantai, kapal, gudang dn pakaian, pembasmi lalat maupun berbagai serangga lainnya. Dalam dunia fotografi biasanya digunakan sebagai pengeras lapisan gelatin dan kertas. Formalin kerap digunakan sebagai bahan pembuatan pupuk urea, produk parfum, pengawet produk kosmetika, pengeras kuku dan bahan untuk insulasi busa. Formalin boleh juga dipakai sebagai pencegah korosi untuk sumur minyak. Di bidang industri kayu, formalin digunakan sebagai bahan perekat untuk produk kayu lapis (plywood). Dalam konsentrasi yang sangat kecil (<1 persen) digunakan sebagai pengawet untuk berbagai barang konsumen sepertinpembersih rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut, perawat sepatu, shampoo mobil, llin dan karpet. Di dalam industri perikanan, formalin digunakan menghilangkan bakteri yang biasa hidup di sisik ikan. Formalin diketahui sering digunakan dan efektif dalam pengobatan penyakit ikan akibat ektoparasit seperti fluke dan kulit berlendir. Meskipun demikian, bahan ini juga sangat beracun bagi ikan. Ambang batas amannya sangat rendah sehingga terkadang ikan yang diobati malah mati akibat formalin daripada akibat penyakitnya. Formalin banyak digunakan dalam pengawetan sampel ikan untuk keperluan penelitian dan identifikasi. Di dunia kedoktera n formalin digunakan dalam pengawetan mayat (Yuliarti, 2007).
Sifat formalin yaitu Formaldehid adalah salah satu zat tambahan makanan yang dilarang. Dipasaran zat ini dikenal dengan nama formalin. Senyawa ini dipasaran dikenal dengan nama formalin dengan rumus CH2O. Formalin adalah nama komersil dari senyawa formalin yang mengandung 35 - 40 % dalam air. Formalin termasuk kelompok senyawa disinfektan kuat yang sering dipakai sebagai bahan pengawet mayat tetapi dapat juga digunakan sebagai pengawet makanan, walaupun formalin tidak diizinkan untuk bahan pengawet makanan serta bahan tambahan. senyawa asam, Itulah sebabnya tahu atau makanan berformalin lainnya menjadi lebih awet.Formaldehida membunuh bakteri dengan membuat jaringan dalam bakteri dehidrasi (kekurangan air), sehingga sel bakteri akan kering dan membentuk lapisan baru di permukaan. Artinya, formalin tidak saja membunuh bakteri, tetapi juga membentuk lapisan baru yang melindungi lapisan di bawahnya, supaya tahan terhadap serangan bakteri lain. Bila desinfektan lainnya mendeaktifasikan serangan bakteri dengan cara membunuh dan tidak bereaksi dengan bahan yang dilindungi, maka formaldehida akan bereaksi secara kimiawi dan tetap ada di dalam materi tersebut untuk melindungi dari serangan berikutnya. Melihat sifatnya, formalin juga sudah tentu akan menyerang protein yang banyak terdapat di dalam tubuh manusia seperti pada lambung. Terlebih, bila formalin yang masuk ke tubuh itu memiliki dosis tinggi.
b. Rhodamin B
Pengertian rhodamin B dalam dunia perdagangan sering dikenal dengan nama tetra ethyl rhodamin, rheonine B, D dan Red no. 19, C.I. Basic violet 10, C.I. No. 45170 (Yuliarti, 2007). Rhodamin B adalah zat warna sintetis berbentuk serbuk kristal, berwarna hijau atau ungu kemerahan, tidak berbau, dan dalam larutan berwarna merah terang berfluorensi. Rhodamin B semula digunakan untuk kegiatan histologi dan sekarang berkembang untuk berbagai keperluan seperti sebagai pewarna kertas dan tekstil. Rhodamin B seringkali disalahgunakan untuk pewarna pangan dan pewarna kosmetik, misalnya sirup, lipstik, pemerah pipi, dan lain-lain. Pewarna ini terbuat dari dietillaminophenol dan phatalic anchidria dimana kedua bahan baku ini sangat toksik bagi manusia. Biasanya pewarna ini digunakan untuk pewarna kertas, wol, dan sutra (Djarismawati, 2004).
Rumus molekul dari rhodamin B adalah C28H31N2O3Cl dengan berat molekul sebesar 479.000. Sangat larut dalam air yang akan menghasilkan warna merah kebiru- biruan dan berfluorensi kuat. Rhodamin B juga merupakan zat yang larut dalam alkohol, HCl, dan NaOH, selain dalam air. Di dalam laboratorium, zat tersebut digunakan sebagai pereaksi untuk identifikasi Pb, Bi, Co, Au, Mg, dan Th, dan titik leburnya pada suhu 1650C (Devianti, 2009). Zat pewarna berupa kristal-kristal hijau atau serbuk ungu kemerahan, sangat larut dalam air dengan warna merah kebiruan dan sangat berfluorensi. Rhodamin B dapat menghasilkan warna yang menarik dengan hasil warna yang dalam dan sangat berpendar jika dilarutkan dalam air dan etanol (Rohman, 2007). Rhodamin B digunakan sebagai reagen untuk antimony, bismuth, tantalum, thallium, dan tungsten. Rhodamin B merupakan zat pewarna tekstil, sering digunakan untuk pewarna kapas wol, kertas, sutera, jerami, kulit, bambu, dan dari bahan warna dasar yang mempunyai warna terang sehingga banyak digunakan untuk bahan kertas karbon, bolpoin, minyak/oli, cat dan tinta gambar.
Ciri-ciri makanan yang mengandung rhodamin B (Devianti, 2009):
Warna kelihatan cerah (kemerahan atau merah terang), sehingga tampak menarik
Ada sedikit rasa pahit
Muncul rasa gatal di tenggorokan setelah mengonsumsinya.
Baunya tidak alami sesuai makanannya
Bahaya utama terhadap kesehatan pemakaian dalam waktu lama (kronis) dapat menyebabkan radang kulit dan alergi. Penggunaan rhodamin B pada makanan dalam waktu yang lama akan dapat mengakibatkan gangguan fungsi hati maupun kanker (Yuliarti, 2007).
c. Boraks
Boraks berasal dari bahasa Arab yaitu Bouraq. Merupakan kristal lunak yang mengandung unsur boron, berwarna dan mudah larut dalam air.Boraks merupakan garam Natrium Na2 B4O7 10H2O yang banyak digunakan dalam berbagai industri non pangan khususnya industri kertas, gelas, pengawet kayu, dan keramik. Gelas pyrex yang terkenal dibuat dengan campuran boraks. . Boraks biasa berupa serbuk kristal putih, tidak berbau, mudah larut dalam air, tetapi borakstidak dapat larut dalam alkohol. Boraks biasa digunakan sebagai pengawet dan antiseptic kayu. Daya pengawet yang kuat dari boraks berasal dari kandungan asam borat didalamnya.Boraks sejak lama telah digunakan masyarakat untuk pembuatan gendar nasi, kerupuk gendar, atau kerupuk puli yang secara tradisional di Jawa disebut “Karak” atau “Lempeng”. Disamping itu boraks digunakan untuk industri makanan seperti dalam pembuatan mie basah, lontong, ketupat, bakso bahkan dalam pembuatan kecap.Boraks sejak lama telah digunakan masyarakat untuk pembuatan gendar nasi, kerupuk gendar, atau kerupuk puli yang secara tradisional di Jawa disebut “Karak” atau “Lempeng”. Disamping itu boraks digunakan untuk industri makanan seperti dalam pembuatan mie basah, lontong, ketupat, bakso bahkan dalam pembuatan kecap.Boraks yang dikonsumsi cukup tinggi dapat menyebabkan gejala pusing, muntah, mencret, kejang perut, kerusakan ginjal, hilang nafsu makan.
Berikut ciri-ciri makanan yang mengandung boraks:
-Darisegiwarna
Makanan yang mengandung boraks biasanya mempunyai warna yang lebih mencolok dan lebih cerah dibanding makanan yang lainnya.
-Darisegitekstur
Makanan yang mengandung boraks mempunyai tekstur kenyal saat dimakan. Makanan ini juga terlihat lebih segar dan cerah dibanding makanan lainnya.
-Miebasah
Mie basah merupakan salah satu makanan yang paling banyak ditemukan mengandung boraks. Mie basah yang mengandung boraks mempunyai ciri lebih kenyal, lebih mengkilap, tidak lengket, dan tidak cepat putus.
-Bakso
Pedagang nakal banyak menggunakan boraks untuk membuat bakso. Ciri bakso yang mengandung boraks itu adalah, teksturnya kenyal dan warnanya cenderung keputihan dibanding bakso lainnya.
-Kerupuk
Ternyata penggunaan boraks juga ada pada kerupuk. Kerupuk yang mengandung boraks mempunyai ciri sangat renyah, namun memberi sedikit rasa getir.
d. Metanhyl Yellow
Methanyl Yellow / Metanil yellow atau kuning metanil merupakan zat warna sintetis berbentuk serbuk, padat, berwarna kuning kecoklatan. Kuning metanil umumnya digunakan sebagai pewarna tekstil, dan cat.Saat ini banyak kuning metanildi salah gunakan untuk pangan, beberapa telah ditemukan untuk beberapa jenis pangan di antaranya, kerupuk, mie,pangan jajanan berwarna kuning dan banyak juga sebagai pewarna pada tahu. Ciri pangan dengan pewarna kuning metanil biasanya, berwarna kuning menyolok dan cenderung berpendar, banyak memberikan titik-titik warna karena tidak homogen (misalnya pada kerupuk).
Zat pewarna kuning Metanil yellow, merupakan zat pewarna industry tekstil yangdilarang untuk produk makanan, yang pada umumnya menggunakan zat anorganik ataupunmineral alam. Zat warna anorganik berasal dari persenyawaan logam berat seperti aluminium,besi, tembaga dan lainnya. Zat warna ini bersifat racun dan berbahaya karena mengandungresidu logam berat. Industri tekstil menggunakan logam berat sebagai bahan pengikat warnaagar warna warna yang dihasilkan menjadi lebih terang dan indah. Bahkan ada beberapaindustry tekstil yang menggunakan logam berat sebagai bahan pewarna. Logam berat yangterkandung di dalam pewarna tekstil dapat dilihat dari jenis limbah yang dihasilkan industrytekstil tersebut, terutama arsenic (Ar), Kadmium (Cd), krom (Cr), timbal (Pb), tembaga (Cu),zinc/seng (Zn) (Agus widodo, 2006)
Ciri-ciri pangan yang mengandung methanil yellow antara lain:
warnanya kuning mencolok dan kecenderungan warnanya berpendar.;
banyak memberikan titik-titik warna yang tidak merata dan terkadang warna terlihat tidak homogen (rata) seperti pada kerupuk;
bila dikonsumsi rasanya sedikit lebih pahit;
Pemakaian methanil yellow dapat menimbulkan iritasi pada pencernaan. Toksikosis kronis jangka panjang Metanil Yellow sangat membahayakan sistem tubuh manusia, tidak hanya ginjal dan gagal hati tapi kadang-kadang dapat menghasilkan karsinoma. Apabila tertelan, bisa menyebabkan mual, muntah, sakit perut, diare, panas, rasa tidak enak dan tekanan darah rendah.
BAB III
METODELOGI PRAKTIKUM
A. Pemeriksaan formalin pada makanan
1. Alat :
a. Petridish
b. Pipet tetes
c. Beaker glass
d. Pengaduk
e. Tabung reaksi
f. Gelas ukur
g. Lumpang
h. Timbangan
2. Bahan :
a. Sampel (Ikan)
b. Aquadest
c. Larutan reagent FO 1
d. Larutan reagent FO 2
e. Larutan standar Formaldehyd
3. Prosedur kerja
1. Timbang sampel sebanyak 25 gr.
2. Gerus sampi halus.
3. Tambahkan 50 ml aquadest
4. Masukkan dalam tabung sampel(Ikan)
5. Tambahkan 5 tetes larutan FO 1 tunggu 3 menit
6. Tambahakan 1 sendok reagent FO 2 tunggu selama 5 menit
7. Bandingkan dengan larutan standart
8. Amati warna yang terjadi pada sampel.(ikan)
B. Pemeriksaan Rhodamin B pada makanan
1. Alat :
a. Petridish
b. Pipet tetes
c. Beaker glass
d. Pengaduk
e. Tabung reaksi
f. Gelas ukur
2. Bahan :
a. Reagen Rhodamine –B1
b. Larutan standar Rhodamine – B
c. Sampel makanan (Cimol ) dan sampel minuman (jas jus)
d. Aquadest
3. Prosedur Kerja
1. Sipakan beaker glass dan masukkan sampel makanan(Cimol) 25 gr dalam volume 50 ml aquadest
2. Hancurkan sampel dengan pengaduk sampai larut seluruhnya.
3. Untuk sampel minuman(Jas jus) yang sudah cair tidak perlu dilakukuan
4. Siapakan tabung reaksi dan masukkan 3 tetes Reagent Rhodamin – B1
5. Tambahakan sampel sebanyak 5 ml secara perlahan dan diamkan beberapa saat.
6. Amati, jika terjadi perubahan warna Rhodamin – B tidak pekat warna menjadi putih kebiruan, dibandingkan deret standart warna Rhodamin – B.
7. Untuk lebih meyakinkan, bandingkan dengan standar Rhodamin – B yang diperlukan sebagai sampel.
C. Pemeriksaan Boraks pada makanan
1. Alat :
a. Lumpang
b. Petridish
c. Oven
d. Pipet ukur
e. Pipet tetes
f. Cawan porselin
2. Bahan :
a. Sampel Makanan (Kerupuk Gendar) Minuman ( Jas Jus)
b. Reagent boraks (B4O72)
c. Larutan standart boraks
d. Kertas boraks
3. Prosedur kerja
1. Timbang sampel sebanyak 25 gr
2. Haluskan dengan menggunakan lumpang
3. Tambahakan aquadest sebanyak 50 ml. aduk hingga homogen
4. Untuk sampel miniuman yang sudah cair, ambil 25 ml tambahkan aquadest sampai tanda 50 ml
5. Karena boraks dalam keadaan dingin memmbentuk garam sebaiknya sampel sebelum diperiksa dipanaskan terlebih dengan 800c selama 3-5 menit setelah tercapai.
6. Masukkan sampel sebanyak 5 ml ke dalam tabung
7. Tambahakan reagent boraks 1 sebanayak 3 tetes diaduk hingga rata.
8. Siapkan kertas boraks teteskan sampel pada perlakuan 2 pada permukaan 3 tetes dan diamk beberapa saat jika Pada boraks ( B4O72) akan terbentuk perubahan warna dari kuning menjadi merah.
9. Untuk lebih meyakinkan bandingkan dengan standart boraks.
D. Pemeriksaan Metanhyl Yellow pada makanan
1. Alat :
a. Lumpang
b. Petridish
c. Beaker glass
d. Pipet ukur
e. Pipet tetes
f. Cawan porselin
g. Tabung reaksi
2. Bahan :
a. Sampel makanan (kue bolu berwarna warni) minuman (jas jus)
b. Reagent Methanyl Yellow-1
c. Larutan standart warna methanyl yellow
d. Aquadest
3. Prosedur Kerja
1. Timbang sampel sebanyak 25 gr
2. Haluskan dengan menggunakan lumpang
3. Setelah itu tambahkan aquadest sampai tanda 50 ml.
4. Untuk sampel minuman yang sudah cair tidak perlu dilakukan perlakuan awal
5. Siapakan tabung reaksi, dan masukkan 0,5-1 ml sampel
6. Tambahkan Reagent Methanyl Yellow-1 sebanyak 2 tetes
7. Diamkan beberapa saat akan terbentuk warna merah muda seulas sampai pekat (merah tajam) menunjukkan methyl yellow positif
8. Bandingakan deret standar warna methyl yellow
9. Untuk lebih meyakinkan bandingkan dengan standart methanyl yellow yang diperluakan sebagian sampel
10. Bandingkan dengan larutan standart methanyl yellow
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
- pemeriksaan formalin pada makanan dilakukan dengan menimbang bahan / sampel yang akan diperiksa, menggerus dengan lumpang, menambahkan quadest, kemudian ditambahkan larutan FO-1 dan FO-2, lalu dibandingkan dengan larutan standar / warna yang umumnya mengandung formalin.Ada beberapa makanan yang umumnya disalahgunakan dengan penambahan formalin diantaranya adalah tahu, bakso, mie basah / kering, dan ikan basah. Dari makanan ini, umumnya makanan yang tergolong Perisahble Food (makanan yang tidak stabil mudah rusak).
- pemeriksaan rhodamin b jika sampel berbentuk warna ungu (violet) pada lapisan atas tabung reaksi , sampel positif mengandung rhodamin b
- pemeriksaan boraks pada makanan dengan menimbang sampel sebanyak 25 kg / 25 ml, dihaluskan (untuk sampel padat), tambahkan aquades sampai tanda 50 ml , kemudian sebelum diperiksa di panaskan di oven dengan suhu 80˚C selama 3-5 menit (karena dalam keadaan dingin boraks membentuk garam), masukkan sampel sebanyak 5 ml ke dalam tabung, tambahkan reagent Boraks 1-3 tetes, diamkan, kemudian akan terjadi perubahan warna kuning menjadi merah jika positif.
- pemeriksaan metanhyl yellow jika sampel warna kuning terang berpendar dan jika dipegang warna kuning akan menempel di kulit , sampel tersebut positi mengandung metahyl yellow
B. Saran
Dengan adanya makalah ini, para pembaca dapat menyadari seberapa penting kesehatan tubuh kita, agar selalu menjaga kekebalan tubuh dan tidak mengkonsumsi makanan – makanan yang tidak bersih dan selalu berhati – hati dalam memilih makanan yang akan dimakan/ diminum.
Daftar Pustaka
BPOM (2015). Formalin, Rhodamine-B, dan Borax Masih Beredar dalam Jajanan Pasar.
Budianto, Agus (2011). Formalin dalam kajian undang-undang kesehatan: Undang-Undang Pangan dan Perlindungan Konsumen. Jurnal Legislasi Indonesia, Vol. 8, No. 1.
Cahyadi, Wisnu (2009). Analisis dan aspek kesehatan bahan tambahan pangan. Jakarta: Bumi Aksara.
Effendi, Supli (2012). Teknologi pengolahan dan pengawetan pangan. Bandung: Alfabeta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar