MATA KULIAH : PENYEHATAN MAKANAN DAN MINUMAN
DOSEN PENGAJAR : Khiki Purnawati K.s.st.,M.kes
LAPORAN
USAP ALAT MAKAN
DI SUSUN OLEH :
Riski PO714221161061
II B /DIV
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLTEKKES KEMENKES MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PROGRAM D IV
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Makanan merupakan sumber energi satu-satunya bagi manusia. Karena jumlah penduduk yang terus berkembang, maka jumlah produksi makananpun harus terus bertambah melebihi jumlah penduduk ini, apabila kecukupan pangan harus tercapai. Permasalahan yang timbul dapat diakibatkan kualitas dan kuantitas bahan pangan. Hal ini tidak boleh terjadi atau tidak dikehendaki karena orang makan itu sebetulnya bermaksud mendapatkan energi tetap dapat bertahan hidup, dan tidak untuk menjadi sakit karenanya. Dengan demikian sanitasi makanan menjadi sangat penting (Slamet, 2009)..
Sanitasi makanan adalah upaya-upaya yang ditujukan untuk kebersihan dan keamanan makanan agar tidak menimbulkan bahaya keracunan dan penyakit pada manusia. Dengan demikian, tujuan sebenarnya dari upaya sanitasi makanan, antara lain menjamin keamanan dan kebersihan makanan, mencegah penularan wabah penyakit, mencegah beredarnya produk makanan yang merugikan masyarakat, dan mengurangi tingkat kerusakan atau pembususkan pada makanan
Upaya pengamanan makanan dan minuman pada dasarnya meliputi orang yang menangani makanan, tempat penyelenggaraan makanan, peralatan pengolahan makan dan proses pengolahannya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya keracunan makanan, antara lain adalah higiene perorangan yang buruk, cara penanganan makanan yang tidak sehat dan perlengkapan pengolahan makanan yang tidak bersih (Chandra, 2006).
Dalam mendapatkan makanan dan minuman yang memenuhi syarat kesehatan, maka perlu diadakan pengawasan terhadap higiene dan sanitasi makanan dan minuman utamanya adalah usaha diperuntukkan untuk umum seperti restoran, rumah makan, ataupun pedagang kaki lima mengingat bahwa makanan dan minuman merupakan media yang potensial dalam penyebaran penyakit (Depkes, 2004).
Kontaminasi makanan dapat terjadi setiap saat, salah satunya dari peralatan makanan yang digunakan tidak memenuhi syarat kesehatan. Di Indonesia peraturan telah dibuat dalam bentuk Permenkes RI No. 1096/Menkes/Per/VI/2011, bahwa untuk persyaratan peralatan makanan tidak boleh bakteri lebih dari 0 koloni/cm2.
Pada percobaan ini akan dilakukan pemeriksaan jumlah kuman pada peralatan makanan dengan sampel piring untuk mengetahui apakah paralatan makanan tersebut layak atau tidak digunakan untuk makan.
B.Tujuan
1. Untuk mengetahui cara mengusap alat makan yang baikdanbenar
2. Untuk mengetahui cara pemeriksaan kumanpada alat makan
3. Untuk mengetahui jumlah Angka Lempeng Total (ALT)
C.Manfaat
1. Sebagai bahan referensi dan masukan bagi para pembaca khususnya mengenai cara mengusap dan pemeriksaan jumlah kuman pada peralatan makan.
2. Sebagai keterampilan yang dimiliki oleh mahasisiwa khususnya bagi tenga kesehatan linggkungan dalam penyehatan Makanan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Tentang Peralatan Makanan
Peranan peralatan makanan dalam pedagang makanan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari prinsip-prinsip penyehatan makanan (Food hygiene). Setiap peralatan makan (piring, gelas, sendok) harus selalu dijaga kebersihannya setiap saat digunakan. Alat makan (piring, gelas, sendok) yang kelihatan bersih belum merupakan jaminan telah memenuhi persyaratan kesehatan, karena didalam alat makan (piring, gelas, sendok) tersebut tercemar bakteri E.coli yang menyebabkan alat makan (piring, gelas, sendok) tersebut tidak memenuhi kesehatan. Untuk itu pencucian peralatan sangat penting diketahui secara mendasar, dengan pencucian secara baik akan menghasilkan peralatan yang bersih dan sehat pula. Dengan menjaga kebersihan peralatan makan (piring, gelas, sendok), berarti telah membantu mencegah pencemaran atau kontaminasi makanan yang dikonsumsi (Djajadinigrat, 1989 dalam Pohan, 2009).yaitu:
1. Peralatan yang kontak langsung dengan makanan tidak boleh mengeluarkan zat beracun yang melebihi ambang batas sehingga membahayakan kesehatan.
2. Peralatan tidak rusak, retak dan tidak menimbulkan pencemaran terhadap makanan.
3. Permukaan yang kontak langsung dengan makanan harus tidak ada sudut mati, rata halus dan mudah dibersihkan.
4. Peralatan harus dalan keadaan bersih sebelum digunakan.
5. Peralatan yang kontak langsung dengan makanan yang siap disajikan tidak boleh mengandung angka kuman yang melebihi ambang batas, dan tidak boleh mengandung E.coli.
6. Cara pencucian peralatan harus memenuhi ketentuan :
a. Pencucian peralatan harus menggunakan sabun atau deterjen air dingin, air panas, sampai bersih.
b. Dibebas hamakan sedikitnya dengan larutan kaporit 50 ppm, air panas 800o C selama 2 menit.
7. Peralatan yang sudah didesinfeksi harus ditiriskan pada rak-rak anti karat sampai kering sendiri dengan bantuan sinar matahari atau buatan dan tidak boleh dilap dengan kain.
8. Semua peralatan yang kontak dengan makanan harus disimpan dalam keadaan kering dan bersih, ruang penyimpanan peralatan tidak lembab, terlindung dari sumber pengotoran / kontaminasi dan binatang perusak.
Menurut Depkes 2004, Peralatan makan yang kita gunakan harus bersih, agar kita terhindar dari kemungkinan penularan penyakit. oleh karena itu perlu dilakukan uji sanitasi alat makan. Cara sederhana untuk memastikan alat makan kita bersih atau tidak, bisa dilakukan dengan uji kebersihan alat sebagai berikut. Menguji kebersihan secara fisik dapat dilakukan dengan cara:
1. Menaburkan tepung pada piring yang sudah dicuci dalam keadaan kering. Bila tepungnya lengket pertanda pencucian belum bersih.
2. Menaburkan garam pada piring yang kering, pertanda pencucian belum bersih.
3. Penetesan air pada piring yang kering. Bila air jatuh pada piring ternyata menumpuk/atau tidak pecah pertanda pencucian belum bersih.
4. Penetesan dengan alkohol, jika terjadi endapan pertanda pencucian belum bersih.
5. Penciuman aroma, bila tercium bau amis pertanda pencucian belum bersih.
6. Penyiraman. Bila peralatan kelihatannya kusam/tidak cemerlang berarti pencucian belum bersih.
Berdasarkan Permenkes RI No.1096/Menkes/SK/VI/2011 tentang hygiene sanitasi jasa boga, persyaratan tempat pencucian peralatan dan bahan makanan sebagai berikut :
1. Tersedia tempat pencucian peralatan, jika memungkinkan terpisah dari tempat pencucian bahan pangan.
2. Pencucian peralatan harus menggunakan bahan pembersih/deterjen.
3. Pencucian bahan makanan yang tidak dimasak atau dimakan mentah harus dicuci dengan menggunakan larutan Kalium Permanganat(KMnO4)dengan konsentrasi 0,02% selama 2 menit atau larutan kaporit dengan konsentrasi 70% selama 2 menit atau dicelupkan ke dalam air mendidih (suhu 80° C -100° C) selama 1 – 5 detik.
4. Peralatan dan bahan makanan yang telah dibersihkan disimpan dalam tempat yang terlindung dari pencemaran serangga, tikus dan hewan lainnya.
Peralatan yang digunakan sebaiknya harus dicuci sampai bersih dengan menggunakan air panas dan sabun (detergen), yang dibantu dengan menggunakan sikat halus dan atau setelah pencucian harus dilakukan pembilasan dengan air secukupnya. Setelah itu disemprot atau dilap dengan menggunakan larutan sanitaiser. Setelah dilap atau disemprot dengan larutan tersebut jangan dibilas lagi, langsung saja keringkan sampai kering.
Jika tidak digunakan larutan sanitaiser dapat dilakukan pembilasan dengan menggunakan air panas (mendidih). Peralatan-peralatan yang kecil seperti sendok, garpu, pengaduk, dan lain-lain yang susah dibersihkan hendaknya direndam dalam larutan detergen panas beberapa waktu sebelum dibersihkan dengan menggunakan larutan sanitaiser. Sanitaiser adalah senyawa kimia yang dapat mengurangi jumlah bakteri dan mikroba lainnya. Sanitaiser yang dapat digunakan bermacam-macam diantaranya 100-200 ppm klorin/atau senyawa kuat seperti ammonium/watener. Biasanya dilakukan dengan cara melarutkan sanitaiser sekitar 3,8 – 7,6 ml kedalam 25 liter air panas (77˚C). Disamping itu air yang digunakan untuk proses pencucian peralatan hendaknya air yang bersih yang memenuhi persyaratan sanitasi, sehingga mencegah kemungkinan kontaminasi.
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Metode praktikum
Metode praktikum yaitu metode swab dilakukan dengan cara di usap dengan menggunakan lidi kapas steril.
B. Prinsip Praktikum
Prinsip utama dalam praktikum usap peralatan makan yaitu sterilisasi, semua alat dan bahan yang digunakan harus dalam keadaan steril. Adapun sterilisasi yang dilakukan dalam praktikum ini yaitu antara lain:
1. Tangan dan lingkungan kerja tempat praktikum harus dalam keadaan steril.
2. Alat dan bahan harus dalam keadaan steril.
3. Tabung reaksi diplambir sebelum dan sesudah dimasukkan sampel
4. Pipet ukur harus diplambir sebelum dan sesudah digunakan.
5. Menghindari bercakap saat melakukan praktikum berlangsung.
C. Tempat
1. Praktikum Usap Alat Makan ,Lokasi praktikum usap alat makan ini berada di , Jl. X
2. Praktikum Pemeriksaan Angka Lempeng Total (ALT) / angka kuman
Proses pemeriksaan Angka Lempeng Total (ALT) / angka kuman ini dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Kampus Poltekkes Kemenkes Makassar Jurusan Kesehatan Lingkungan.
D. Prosedur Pelaksanaan
1. Tahap Persiapan Alat dan bahan
a. Alat
1) Pipet Steril 10 ml 3 buah masing – masing pemeriksaan
2) Petridish steril 3 buah masing – masing pemeriksaan
3) Lidi Kapas steril 3 buah masing – masing pemeriksaan
4) Luas Jendela ukuran 5 x 5 cm = 25 cm 2
5) Erlenmeyer
6) Pengaduk
7) Lampu spritus
8) Korek api
9) Tabung reaksi
10) Rak tabung
12) Spidol
13) Termos
15) Autoclave
16) Inkubator
17) Oven
18) Bulp
b. Bahan
1) Air pepton
2) Larutan pengencer NaCl 0,85%
3) Medium Nutrien Agar
4) Alkohol
5) Kapas
6) Kertas Label
2. Tahap Pelaksanaan
a. Sterilisasi Alat
1) Persiapkan alat yang akan di sterilisasi, seperti pipet 10 ml, petridish, dan lidi kapas.
2) Bungkus alat tersebut dengan kertas koran
3) Masukkan alat yang telah dibungkus tadi, ke dalam oven dengan suhu 105 ˚C dalam waktu 2 jam.
b. Praktikum Usap Alat Makan
1) Persiapkan sarung tangan yang steril atau bisa dengan membasahi tangan dengan menggunakan alkohol agar tangan menjadi steril.
2) Alat makan yang akan diperiksa masing – masing diambil 3 buah tiap jenis yang diambil secara acak dari tempat penyimpanan.
3) Persiapkan catatan formulir pemeriksaan dengan membagi alat makan dalam kelompok – kelompok
4) Persiapkan lidi kapas steril, kemudian buka kapas penutup tabung reaksi yang berisi air pepton.
5) Plumbir bagian ujung dari tabung reaksi tersebut, kemudian masukkan lidi kapas steril ke dalamnya.
6) Lidi kapas steril dalam tabung reaksi ditekan ke dinding tabung untuk membuang /memeras airnya, lalu angkat dan diusapkan pada setiap alat – alat makan yang diusapkan sampai selesai.
7) Permukaan tempat alat makan yang diusap, yaitu:
a) gelas : permukaan luar dan dalam bibir sedalam 6 mm
b) Sendok : permukaan bagian luar dan dalam seluruh sendok
C) Piring : permukaan dalam tempat makanan diletakkan
8) Cara melakukan usapan :
a) Pada gelas dengan 3 usapan mengelilingi bidang permukaan.
b) Pada sendok dengan 3 usapan seluruh permukaan luar dan dalam.
c) Pada piring dengan 3 usapan pada permukaan tempat makanan dengan menyilang siku – siku antara usapan yang satu dengan garis usapan kedua dan menggunakan luas jendela untuk mewakili dari luas seluruh permukaan piring.
9) Setiap bidang permukaan yang diusap dilakukan 3 kali berturut – turut dan satu lidi kapas digunakan untuk satu kelompok alat makan yang diperiksa.
10) Setiap hasil mengusap 1 alat makan dari sau kelompok selalu dimasukkan ke dalam botol cairan di putar – putar dan ditekan ke dinding, demikian dilakukan berulang – ulang sampai semua kelompok diambil usapannya.
11) Setiap satu kelompok menggunakan 1 lidi kapas sebab
12) Setelah kelompok alat makan atau luas permukaan peralatan masak diusap, lidi kapas dimasukkan ke dalam botol, lidinya dipatahkan atau digunting, dan bibir tabung dipanaskan dengan api spritus, lalu ditutup kembali dengan kapas penutupnya.
13) Tempelkan kertas label yang telah dipersiapkan, tulis nama jenis alat makan yang telah diusap. Untuk nama pengambil, tempat pengambilan, dan tujuan pengambilan sampel ditulis dibuku catatan yang telah disiapkan oleh pengambil.
14) Kirimkan segera ke laboratorium dengan suhu dingin untk diperiksa. Bila tidak dapat dikirim segera, disimpan dalam tempat penyimpanan dingin.
c. Pemeriksaan Angka Lempeng Total
1) Siapkan larutan pengencer NaCl 0,85% sebanyak masing – masing 2 tabung dan 2 buah petridish yang diberi kode 101 dan 102 dan kontrol.
Catatan : Pengenceran yang digunakan adalah pengenceran 101 dan 10 2 sehingga yang digunakan yaitu:
2 tabung dan 2 petridish untuk piring
2 tabung dan 2 petridish untuk gelas
2 tabung dan 2 petridish untuk sendok
2) Ambil 1 ml larutan pengencer NaCl dengan pipet steril pada tabung kode kontrol dan masukkan ke dalam petridish yang juga berkode kontrol.
3) Ambil 1 ml sampel dengan pipet steril pada tabung yang berkode 101(untuk satu jenis alat makan) dengan dengan pipet lepas dan tidak boleh ditiup.
4) Pipet 2 ml dari tabung tadi (yang berkode 101) dan masukkan ke dalam petridish yang berkode 101 (untuk satu jenis alat makan) dan 1 ml sisanya ke tabung 102 lalu pipet lepas
5) Pipet 1 ml dari tabung 102 masukkan ke petridish yang sudah diberi kode 102.
6) Tuangi petridish yang berisi sampel dengan nutrien agar 55˚C – 56˚C sebanyak ±15 ml
7) Digoyang-goyang agar rata dan biarkan beku
8) Balik petridish dan masukkan ke dalam inkubator untuk dieramkan dengan suhu 37˚C selama 1 x 24 jam
d. Pembacaan Hasil danPerhitungan ALT / Angka Kuman
1) Keluarkan petridish yang berisi sampel yang telah dieramkan selama 1 x 24 jam
2) Hitung jumlah kuman yang berbentuk bulatan pada sampel, kemudian masukkan ke dalam rumus yang telah ditentukan
3) Adapun perhitungan jumlah kuman yang terbaca, yaitu:
Rumus ALT = (101 – C) x 10 + (102 – C) x 100
2
Perhitungan dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
a) Piring
Untuk pengenceran pertama (101)= 100 kuman
Untuk pengenceran kedua (102) = 30 kuman
Untuk kontrol = 5 koloni/cm2
Maka perhitungannya sebagai berikut :
ALT= (100–5) x 10 + (30–5) x 100 = 1725 = 69koloni/cm2
2 25
Catatan : luas jendela yang digunakan = 5 x 5 = 25 cm2
b) Sendok
Untuk pengenceran pertama (101) = 150/ kuman
Untuk pengenceran kedua (102) = 107kuman
Untuk kontrol = 5 koloni/cm2
Maka perhitungannya sebagai berikut :
ALT= (150–5) x 10 + (107–5) x 100 = 5825 koloni/cm2
2 2
d) Gelas
Untuk pengenceran pertama (101) = 170 kuman
Untuk pengenceran kedua (102) = 120 kuman
Untuk kontrol = 5 koloni/cm2
Maka perhitungannya sebagai berikut :
ALT= (170–5) x 10+(120–5) x 100 = 6575 koloni/cm2
2 2
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dilaboratorium Mikrobiologi, maka didapat angka kuman pada alat makan sebagai berikut :
Tabel.I : AngkaLempeng Total padaAlatMakan yang Diperiksa
No
Jenis Alat Makan
Jumlah ALT
(kolono/cm2)
1.
Piring
69
2.
Sendok
5825
3.
Garpu
4960
B. Pembahasan
Berdasarkan hasil praktikum tentang pemeriksaan usap alat makan yang dilakukan disalah satu rumah warga di jalanwijaya kusuma ada beberapa peralatan makan yang tidak memenuhi persyaratan untuk digunakan karena memeliki nilai ambang batas yang tidak ditolerir.
Tingginya angka kuman pada peralatan makan di rumah warga yang terletak di jalan x, tidak terlepas oleh beberapa factor penyebab antara lain, yaitu: pencucian peralatan makan dicuci pada 1 ember air yang dilakukan hingga beberapa kali pencucian (pencucian peralatan makan pada iar yang tidak mengalir, Rak tempat penyimpanannya berada dekat dengan tempat terbuka dan penggunaan Detergen yang berulang kali.
Rak yang kurang hygiene tempat menyimpan peralatan makan sangat memungkinkan melekatnya mikroba, karena rak dekat dengan tempat terbuka sehinggah banyak mikroba lain yang hinggap pada rak penyimpanan peralatan makan. Selain rak penyimpanan peralatan makan juga dipengaruhi oleh penggunaan detergen / sabun yang berulang kali sampai warnanya menjadi keruh kehitaman. Penggunaan sabun / detergen yang berulang kali memungkinkan kotoran dari peralatan makan satu berpindah keperlatan lain . Untuk mencegah terjadinya kontaminasi sebaiknya sabun / detergen selalu diganti dan tidak boleh digunakan berulang kali
Adanya Jumlah kuman yang terdeteksi dari alat makan tersebut dikarenakan adanya bantuan penggunaan air pepton pada proses usap alat, yang mana air pepton ini berguna agar mikroba cepat tumbuh, karena mengandung banyak N2..Larutan pepton juga berfungsi untuk mempertahankan nilai pH tertentu agar tidak banyak berubah selama reaksi kimia berlangsung. Lidi kapas steril yang dicampur homogen dalam larutan pepton, berfungsi agar memungkinkan mikroorganisme pada sampel tersebar merata dalam larutan pepton.
Dan hasil perhitungan untuk kontrol didapatkan 5 koloni/cm2. Padahal seharusnya pada media kontrol ini tidak boleh terdapat angka kuman, karena pada media ini hanya terdapat pengencer steril yang tidak diberikan sampel. Hal ini menandakan bahwa kondisi awal lingkungan mengandung mikroba sebanyak 5 koloni/cm2 permukaan. Meskipun pada dasarnya, hasil pemeriksaan untuk kontrol idealnya 0 (nol) koloni/cm2, akan tetapi nilai ini terjadi karena beberapa factor penyebab misalnya karena ada kontaminasi dari praktikan ataupun lingkungan kerja tempat pemeriksaan yang kurang hygienis, termasuk alat yang digunakan pada saat praktikum. Dengan catatan bahwa nilai dari kontrol harus lebih kecil dari nilai pada pemeriksaan media biakan mikroba.
Pada praktikum ini, dilakukan pengenceran sampai 2 kali yaitu pengen-ceran 10-1 sampai 10-2, yaitu suatu sampel dari suatu suspensi yang berupa campuran diencerkan dalam suatu tabung tersendiri secara berkelanjutan dari suatu tabung ke tabung lain sampai pada pengenceran kedua. Dengan tujuan untuk menurunkan jumlah bakteri sehingga pada pengenceran terakhir akan didapatkan jumlah koloni yang lebih sedikit dan mudah diketahui jumlahnya (Sudarsono, 2008).
Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan hasil pada pengenceran pertama dan kedua yang berbeda. Dari ketiga alat makan yang diusap, pada pengenceran pertama memeliki angka kuman yang tinggi dibandingkan dengan pengenceran kedua. Dari hasil yang berbeda tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat pengenceran yang dilakukan, semakin sedikit mikroba yang tumbuh dalam media. Dan media kontrol berfungsi untuk mengetahui kondisi awal lingkungan pemeriksaan dengan memasukkan 1 ml larutan NaCl ke dalam cawan petri dan dituangkan nutrient agar, lalu dihomogenkan.
Pada praktikum setelahNutrien Agar dalam cawan petri beku, maka sampel dibalik dan dimasukkan ke dalam Inkubator selama 1 x 24 jam. Waktu ini adalah masa yang dibutuhkan bagi sel untuk membelah diri yang dikenal sebagai waktu generasi. Suhu yang digunakan selama inkubasi yaitu 37˚ C dan bakteri yang dapat tumbuh pada suhu ini adalah bakteri jenis mesofil dengan suhu minimum 10-20˚ C, optimum 20-40˚ C, dan maksimum 40-45˚ C.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1096/MENKES/PER/VI/2011, bahwa alat makan (piring, sendok, dan gelas) tidak boleh mengandung bakteri lebih dari 100 koloni/cm2. Maka dapat dilihat bahwa sampel alat makan (piring, sendok, garpu, gelas,danmangkok) yang diperiksa jumlah kumannya dapat dikatakan tidak sehat dan tidak layak untuk digunakan.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari hasil praktikum kami adalah sebagai berikut :
1. Kami sudahdapatmengetahui cara mengusap alat makan yang baikdanbenar.
2. Kami sudahdapat mengetahui cara pemeriksaan kuman pada alat makan.
3. Kami sudah dapat mengetahui Jumlah Angka Lempeng Total (ALT) pada alat makan.
B. Saran
Adapun saran pada praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Diharapkan kepada praktikan sebaiknya selalu menerapkan prinsip sterilisasi dalam setiap pemeriksan mikroba.
2. Setelah selesai melakukan pemeriksaan Angka Lempeng Total (ALT) sebaiknya memberikan informasi kepada masyarakat agar memperhatikan kebersihan alat makan yang digunakan.
DAFTAR PUSTAKA
http://anhiandriani28.blogspot.com/2013/04/laporan-praktikum-pemeriksaan-alat-makan.html(diakses pada 28 Juni 2018)
http://arlindasugiarta.blogspot.com/2012/12/laporan-mikrobiologi-usap-alat-makan.html(diakses pada 28 Juni 2018)
http://dicerahkan.blogspot.com/2010/12/laporan-usap-alat-makanan.html(diakses pada 28 Juni 2018)
http://sarmilahkesling.blogspot.com/2014/12/usap-alat-makan-poltekkes-kesling-mks.html(diakses pada 28 Juni 2018)
http://endahsss.blogspot.com/2011/06/laporan-praktikum-mikrobiologi.html(diakses pada 1
(diakses pada 28 Juni 2018)
http://city-selatiga.blogspot.com/2012/06/usap-alat.html(diakses pada 28 Juni 2018)
Komentar
setiawan kasim3 Juli 2018 19.14
Cukup bagus tapi kurang gambarnya
BALAS
PMM-A3 Juli 2018 19.25
bisa di jadikan referensi,makasih
BALAS
Penyehatan Makanan dan Minuman3 Juli 2018 19.33
Kurang gambarnya ,
BALAS
Sitti Hajar M.Latip3 Juli 2018 19.44
very nice,bisa dijadikan sebagai referensi untuk menambah pengetahuan dan wawasan bagi masyarkat lainnya.
BALAS
Posting Komentar
Postingan populer dari blog ini
LAPORAN PRAKTIKUM PEMERIKSAAN SALMONELLA ,VIBRIO CHOLERA,SHIGELLA dan E. COLI PADA MAKANAN ( AYAM GORENG)
April 22, 2018
Gambar
Mata Kuliah : Penyehatan Makanan dan Minuman_A
Mana Dosen : Khiki Purnawati,S.ST.,M.Kes
“ LAPORAN PRAKTIKUM PEMERIKSAAN SALMONELLA ,VIBRIO CHOLERA,SHIGELLA dan E. COLI PADA MAKANAN ( AYAM GORENG)”
OLEH :
HASRINA
PO.71.4.221.16.1.046
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
DIPLOMA D.IV 2018
PEMERIKSAAN SALMONELLA PADA MAKANAN ( AYAM GORENG)
A. DASAR TEORI
Salmonella merupakan suatu genus bakteri enterobakteria gram-negatif berbentuk tongkat yang menyebabkan tifus, paratifus, dan penyakit foodborne. Spesies-spesies Salmonella dapat bergerak bebas dan menghasilkan hydrogen sulfida. Salmonella dinamai dari Daniel Edward Salmon, ahli patologi Amerika, walaupun sebenarnya, rekannya Theobald Smith (yang terkenal akan hasilnya pada anafilaksis) yang pertama kali menemukan bacterium tahun 1885 pada tubuh babi.
Berikut adalah klasifikasi dari Bakteri Salmonella :
Kerajaan : Bakteri
Kelas …
BACA SELENGKAPNYA
KESEHATAN LINGKUNGAN : CARA PEMERIKSAAN RHODAMIN-B,FORMALIN,BORAKS DAN METHYL YELLOW PADA MAKANAN DAN MINUMAN
Maret 28, 2018
Gambar
BACA SELENGKAPNYA
KESEHATAN LINGKUNGAN : LAPORAN PRAKTIKUM PEMERIKSAAN KADAR SIANIDA DAN LOGAM BERAT PB (TIMBAL) PADA MAKANAN
Maret 22, 2018
Gambar
BACA SELENGKAPNYA
Diberdayakan oleh Blogger
Gambar tema oleh Michael Elkan
Foto saya
HASRINA INA
KUNJUNGI PROFIL
Arsip
Laporkan Penyalahgunaan
Mata Kuliah : Penyehatan Makanan dan Minuman
Dosen : Khiki Purnawati Kasim, S.ST., M.Kes
Pemeriksaan E.Coli, Salmonella, Vibrio cholera, dan Shigella pada Sampel Makanan ( ikan bakar )
DISUSUN OLEH :
NAMA : RISKI
NIM : PO714221161061
TINGKAT : II.B/D.IV
KEMENTRIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
2017
Laporan Pemeriksaan E.coli pada Makanan
A. Dasar Teori
E.coli umumnya merupakan flora normal saluran pencemaran manusia dan hewan. Dapat berubah menjadi opounis pathogen bila hidup diluar usus, misalnya pada infeksi saluran kemih, infeksi luka dan mastitis.
E.coli dalam jumlah banyak bersama-sama tinja, akan mencemari lingkungan. E.coli thermotouleran adalah straint E.coli yang telah hidup pada suhu biakan 44,5oC dan merupakan indicator pencemaran air dan makanan oleh tinja. E.coli merupakan bakteri gram negative, tidak berkapsul umumnya mempunyai fimbria dan bersifat motile. Bakteri ini mampu meragi lactose dengan cepat sehingga pada agar EMB membentuk koloni merah muda sampai tua dengan kilat logam yang spesifik, dan permukaan halus.
Kontaminasi bakteri E.coli pada makanan biasanya berasal dari kontaminasi air yang digunakan. Bahkan makanan yang sering terkontaminasi oleh E.coli ialah daging ayam, daging sapi, daging babi selama penyembelihannya, ikan dan makanan hasil laut lainnya, telur dan produk olahannya, sayuran, buah-buahan, sari buah serta bahan minuman susu dan lainnya.
Alat-alat yang digunakan dalam industry pengolahan pangan yang sering terkontaminasi oleh E.coli yang berasal dari air yang digunakan untuk mencuci. Kontaminasi bakteri ini pada makanan atau alat-alat pengolahan merupakan suatu tanda praktek sanitasi yang kurang baik.
B. Tujuan
1. Agar mahasiswa dapat mengetahui alat dan bahan yang digunakan dalam pemeriksaan E.coli
2. Agar mahasiswa dapat melakukan identifikasi E.coli pada samper makanan dan minuman
C. Alat dan Bahan
1. Alat
- Neraca analitik
- Sendok
- Gelas ukur
- Erlenmeyer
- Tabung Reaksi
- Durham
- Rak tabung
- Pipit ukur
- Balp
- Ose
- Spritus
- Petridish
- Pengaduk
2. Bahan
- Sampel makanan dan minuman
- Aquades
- Media pepton
- Media EC. Medium
- Kapas
- Alkohol
D. Prosedur Kerja
1. Test Perkiraan
- Timbang 10 gr sampel makanan dan 10 ml sampel minuman.
- Makanan dalam bentuk padat dihancurkan menggunakan air pepton 90ml.
- Pipet 1 ml sampel, kemudian masukkan dalam tabung yang berisi lactose broth sebanyak 1 ml.
- Inkubasikan dalam incubator selama 1 x 24 jam dengan suhu 35oC.
- Lakukan pengamatan, bila positif warna keruh dan ad gas pada tabung durham.
- Jika sampel negative, lanjutkan simpan dalam incubator selama 2 x 24 jam dengan suhu 35oC.
2. Test Penegasan
- Dari setiap tabung laktosa yang positif diambil 1-2 mata ose.
- Masukkan ke tabung EC Broth, inkubasikan tabung tersebut selama 1 x 24 jam dengan suhu 45,5oC.
- Jika sampel negative, dilanjutkan kembali untuk diinkubasi selama 2 x 24 jam dengan suhu 45,5oC.
- Koloni yang tersangka positif terdapat gas pada tabung EC Medium.
- Lanjutkan ke Tes Lengkap.
3. Test Lengkap
- Amati pada tabung EC Medium,, jika positif pindahkan pada media EMB Agar.
- Ambil 1-2 mata ose, lalu zig-zag dimedia agar.
- Inkubasikan selama 18-24 jam, dengan suhu 35oC.
- Koloni tersangka datar, berwarna gelap dengan atau tanpa kilatan logam.
E. Hasil
Berdasarkan praktikum yang dilakukan dengan menggunakan sampel makanan(ikan bakar) sampel tersebut diambil dari penjual ikan bakar depan balai kesehatan mata (pinggir jalan), didapatkan hasil sebagai berikut :
1. Sampel Makanan
- Tes Perkiraan : (+) ditandai dengan adanya gas pada tabung durham; dan berwarna keruh pada media
- Tes Penegasan : ( - ) negative
F. Analisa Hasil
Berdasarkan hasil yang didapatkan pada pemeriksaan E-Coli pada sampel makanan tersebut, pada tes perkiraan diperkirakan adanya bakteri, karena pada tes tersebut ditandai dengan adanya gas pada tabung durham dan pada media berwarna keruh. Tetapi pada tes lengkap sampel makanan ( ikan bakar)tersebut dinyatakan negative adanya bakteri E.coli. Meski demikian sampel tersebut telah ditemukan bakteri koliform jenis lain.
G. Kesimpulan
Dari hasil dan analisa yang didapatkan, dapat ditarik kesimpulan bahwa sampel makanan tersebut tidak terkontaminasi oleh bakteri E.coli, tetapi terkontaminasi oleh bakteri jenis lain, hal ini dikarenakan sampel tersebut positif pada tes perkiraan dan juga tes penegasan.
Berdasarkan Peraturan menteri kesehatan republik lndonesia No. 1098/Menkes/per/VII/2003 tentang persyaratan higiene sanitasi rumah makan dan restoran bahwa angka kolifom dalam makanan harus nol (0) / gram.
Sedangkan, menurut BPOM RI NO. 00.06.1.52.4011 tentang Penetapan Batas Maksimum Cemaran Mikroba dan Kimia dalam Makanan dan minuman, batas maksimum jenis cemaran APM Escherichia coli< 3/g.
Laporan Pemeriksaan Salmonella pada Makanan dan Minuman
A. Dasar Teori
Salmonella merupakan salah satu bakteri yang sering menyebabkan penyakit yang serius apabila mencemari makanan maupun minuman yang dikonsumsi manusia. Salmonella juga dapat hidup pada tubuh makhluk hidup yang berdarah dingin maupun berdarah panas. Bakteri ini bukan indikator sanitasi, melainkan bakteri indikator keamanan pangan . Artinya, karena semua serotipe Salmonellayang diketahui di dunia ini bersifat patogen maka adanya bakteri ini dalam makanan dianggap membahayakan kesehatan. Oleh karena itu berbagai standar makanan siap santap mensyaratkan tidak ada Salmonella dalam 25 gram sampel makanan.
Secara morfologi, bakteri Salmonella mempunyai karakteristik gram negatif, berbentuk batangdiameter 0,7 – 1,5 ÎŒm, memiliki panjang 2 – 5 ÎŒm, tidak membentuk spora, dan bersifat aerob/fakultatif aerob.Salmonella memiliki kekerabatan yang dekat dengan bakteri genus Escherichia dan dapat dijumpai hampir di seluruh dunia.
Berikut adalah klasifikasi dari Bakteri Salmonella:
Phylum/Divisi : Protophyta
Kelas : Schizomycetes
Ordo : Enterobacteriales
Keluarga : Enterobacteriaceae
Genus : Salmonella
Species : S. enteric
Salmonella mungkin terdapat pada makanan dalam jumlah tinggi, tetapi tidak selalu menimbulkan perubahan dalam hal warna, bau, maupun rasa dari makanan tersebut. Semakin tinggi jumlah salmonella dalam suatu makanan, semakin besar timbulnya gejala infeksi. Makanan-makanan yang sering terkontaminasi oleh salmonella yaitu olahan telur dan hasil olahannya, ikan dan hasil olahannya, daging ayam, daging sapi, serta susu dan olahannya seperti ice cream dan keju.
B. Tujuan
1. Agar mahasiswa dapat mengetahui alat dan bahan yang digunakan dalam pemeriksaan salmonella.
2. Agar mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan salmonella.
3. Agar mahasiswa dapat menentukan jenis salmonella pada sampel yang diperiksa.
C. Alat dan Bahan
1. Alat
- Tabung reaksi
- gelas ukur
- Pipet ukur 10 ml
- Petridish
- Beacker glass
- Tabung durham
- Incubator
- Autoclave
- Lampu spiritus
- Balp
- Ose
2. Bahan
- Sampel makanan
- Endo agar
- Triple sugar iron agat ( TSIA)
- Kliger iron agar (KIA)
- Media gula-gula ( maltose, manit sakrosa,laktosa,glukosa )
- Aquadest
D. Prosedur Kerja
1. Hari I
- Timbang sampel makanan sebanyak 10 gram
- Kemudian diblender dengan air pepton sebanyak 50 ml
- 1 ml sampel, masukkan dalam petridish steril dan tuangi endo agar steril suhu 55oC ±15 cc goyang dan biarkan beku
- Eramkan selama 18-24 jam dengan 37oC
2. HARI II
- Amati, jika coloni berwarna merah rose (merah muda), coloni kecil dan berwarna putih berarti positif
- Tanam pada media TSIA 1-2 ose secara zig-zag
- Eramkan selama 18-24 jam dengan suhu 37oC
3. HARI III
- Dinyatakan positif jika lereng berwarna merah, dasar kuning dan pada tusuk tidak hitam
- Lanjutkan pada media gula-gula dan KIA 1-2 ose
- Eramkan dengan suhu 37oC selama 18-24 jam
4. HARI IV
- Baca dalam tabel untuk menentukan jenis salmonella. Pada KIA pada tusuk pertama ada warna hitam maka menandakan adanya gas H2S pada lereng warna merah dengan dasar kuning
E. Hasil
Berdasarkan praktikum yang dilakukan dengan menggunakan sampel makanan(ikan bakar), sampel tersebut diambil dari penjual ikan bakar depan rumah sakit balai mata .
1. Sampel Makanan
- Hari I : penanaman
- Hari II : ( - ) negative; karena tidak terdapat warna merah rose pada Media Endo Agar
F. Analisa Hasil
Berdasarkan hasil yang didapatkan pada pemeriksaan Salmonella pada sampel makanan tersebut, negative.
G. Kesimpulan
Dapat ditarik kesimpulan bahwa, pada sampel makanan yang diperiksa tidak terkontaminasi bakteri Salmonella.
Laporan Pemeriksaan Vibrio Cholera pada Makanan dan Minuman
A. Dasar Teori
Sumber energi manusia untuk dapat melakukan metabolisme diperoleh dari konsumsi makanan. Namun konsumsi bahan pangan yang tidak tepat justru dapat mengarah kepada sakit penyakit. Salah satu penyebab penyakit tersebut adalah oleh infeksi mikroorganisme seperti Vibrio Cholerae. Berikut spesifikasi karakter, kontaminasi, efek, maupun penanggulangan akibat kontaminasi bakteri Vibrio cholerae. Vibrio cholerae adalah organisme gram negatif dan bakteri yang tidak membentuk spora. V. cholerae dapat tumbuh pada suhu 10-43 oC, dengan suhu optimal 37 oC. V. cholerae juga dapat bertahan hidup dalam lemari pendingin dan bertahan hidup dalam kondisi lembab, rendah asam, makanan dingin selama 2 minggu atau lebih.V. cholerae juga dapat bertahan untuk waktu yang lama pada suhu pembekuan. Rentang pH untuk pertumbuhan V. cholerae adalah 5,0-9,6, dengan pH optimum pada 7,6. V. cholerae toleran terhadap pH tinggi tetapi tidak asam dan tidak aktif pada nilai pH 4.5 pada suhu kamar. Pertumbuhan V. cholerae akan meningkat dengan adanya konsentrasi garam yang rendah. Organisme ini sensitif terhadap pengeringan dan bertahan hanya selama kurang dari 48 jam dalam makanan kering.
V. cholerae merupakan organisme fakultatif anaerob (tumbuh dengan atau tanpa oksigen). Namun pada kondisiaerobik, V. cholerae juga dapat tumbuh dengan baik. Organisme ini tidak tahan terhadap desinfektan yang biasanya digunakan dalam lingkungan pengolahan makanan. V. cholerae tidak tahan panas dan dapat mati pada suhu pasteurisasi yaitu 60 oC selama 2,65 menit dan 71 oC selama 0,30 menit. Memasak pada suhu 70 oC biasanya cukup untuk menginaktivasi V. cholera (Lawley et al., 2008).
Sumber kontaminasi kolera biasanya karena sanitasi yang buruk dan kontaminasi dari feses. Vibrio cholerae bisa terdapat pada makanan jika makanan tersebut terkontaminasi oleh air yang tercemar, atau pengolahan makanan yang membawa patogen (Lawley et al., 2008). Infeksi V. cholerae biasanya disebabkan karena konsumsi makanan laut, seperti kerang. Kerang dapat terkontaminasi lingkungan dan infeksi kolera yang paling sering yaitu karena konsumsi dari tiram mentah. Makanan lain yang sering terkontaminasi yaitu buah, sayur, daging, ikan, santan beku , nasi dan kacang- kacangan. Secara umum, kontaminasi yang terjadi yaitu pada makanan mentah (Lawley et al., 2008). Gejala yang timbul dari Vibrio cholerae berupa diare ringan, jika diare lebih parah dapat mengakibatkan produksi tinja menjadi warna abu-abu atau berubah menjadi cairan putih keruh yangg mirip dengan air cucian beras. Gejala lainnya adalah mual, sakit perut dan tekanan darah mejadi rendah. Dapat juga terjadi pendarahan yang disertai dengan kram perut dan demam. Infeksi ini dapat menyebabkan dehidrasi sehingga harus segera diobati kalau tidak akan mengakibatkan kematian. Vibrio cholerae khusus untuk non-O1/0139 gejalanya terjadi dalam waktu 48 jam dari infeksi dan berlangsung sekitar 6 sampai 7 hari. Pada umumnya jika sudah sehat orang tersebut akan sembuh dalam waktu 1 sampai 6 hari (Lawley et et al.,2008).
Pertama kali yang akan dirasakan oleh penderita kolera adalah hilangnya nafsu makan dan telapak tangan serta kaki terasa dingin. Gejala lainnya adalah mual, muntah dan diare berat. Masa inkubasi vibrio cholerae bervariatif mulai dari beberapa jam hingga 5 hari tetapi umumnya2-3 hari (Rahayu, 2010). Penyakit kolera ditimbulkan oleh infeksi karena disebabkan oleh bakteri vibrio cholerae yang dapat menimbulkan penyakit. Proses dimana mikroorganisme yang terdapat di dalam tubuh dapat menyebabkan sakit yang biasa disebut dengan infeksi (Potter & Perry, 2005).
B. Tujuan
1. Agar Mahasiswa dapat mengetahui alat dan bahan yang digunakan dalam pemeriksaan vibrio
2. Agar Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan vibrio
C. Alat dan Bahan
1. Alat
- Tabung durham
- Tabung reaksi
- Gelas ukur
- Ose
- Lampu spiritus
- Incubator
- Beacker gelas
- Pipet ukur
- Gelas ukur
- Balp
2. Bahan
- sampel makanan
- air pepton alkalis
- Triple Sugar Iron (TSIA)
- media gula-gula( maltosa, manit, sakarosa, lactosa, glukosa )
- aquadest
D. Prosedur Kerja
Hari I
- Ambil sampel makanan sebanyak 10 gram
- Blender dengan air pepton sebanyak 90 ml
- Ambil 1 ml air sampel dan masukkan ke dalam larutan pepton 5 ml
- Inkubasi menggunakan incubator selama 18 - 24 jam dengan suhu 35oC - 37oC
Hari II
- Amati larutan pepton apabila terdapat perubahan warna maka larutan ini tersangka positif dan harus melalui tahap selanjutnya
- Ambil 1-2 mata ose tanam pada media TSIA/TCBS dengan cara zig-zag dan tusuk sampai dasar
- Eramkan dengan suhu 37oC selama 1 x 24 jam
- Pembuatan media gula-gula
Hari III
- Amati, dinyatakan positif jika timbul warna kuning pada media TSIA/TCBS
- Ambil 1-2 mata ose kemudian celupkan pada larutan maltosa, manit, sakarosa, laktosa, glukosa dan KIA dengan zig-zag dan tusuk sampai kedasar
- Eramkan dengan suhu 37oC selama 1 x 24 jam
Hari IV
- Amati dan cocokkan dengan tabel
E. Hasil
Berdasarkan praktikum yang dilakukan dengan menggunakan sampel makanan(ikan bakar) didapatkan hasil sebagai berikut :
1. Sampel Makanan
- Hari I : penanaman
- Hari II : ( - ) negative; ditandai dengan tidak adanya perubahan warna pada media air pepton alkalis
F. Analisa Hasil
Berdasarkan hasil yang didapatkan pada pemeriksaan Vibrio cholera pada sampel makanan tersebut tidak terdapat bakteri vibrio cholera, hal ini dikarenakan bakteri vibrio cholera hanya dapat ditemukan pada makanan hasil laut, seperti udang ikan dan lainnya.
Meskipun demikian, bakteri Vibrio cholera dapat menimbulkan berbagai macam penyakit yaitu kejang perut, mual, muntah, pusing, demam dan menggigil. Dan juga Vibrio berkembang biak dengan cepat didalam saluran pencernaan dan dikeluarkan bersama feces selama penderita terserang infeksi.
G. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan analisa, dapat ditarik kesimpulan bahwa pada sampel makanan tersebut tidak terkontaminasi oleh bakteri Vibrio cholera. Meskipun demikian, bakteri tersebut dapat ditemukan pada makanan hasil laut.
Laporan Pemeriksaan Shigella pada Makanan dan Minuman
A. Dasar Teori
Shigellosis atau disentri basiler tergolong penyakit menular yang merupakan salah satu penyebab kesakitan dan kematian terutama pada anak usia di bawah 5 tahun khususnya di negara berkembang. Penyebab terjadinya penyakit ini adalah bakteri Shigella spp. Shigella adalah bakteri entenik patogen yang dominan sebagai kausa diare bersama-sama dengan Salmonella dan Vibrio cholerae. Kasus ini paling sering terjadi di lingkungan dengan sanitasi dan hygiene yang buruk, ketersediaan sumber air bersih yang kurang, kemiskinan, dan pendidikan rendah. Penyakit pada anak-anak ini dapat memberikan dampak merugikan terhadap status gizi anak. Shigellosis memberikan efek negative terhadap status gizi akibat penurunan asupan nutrisi dan absorpsi usus, peningkatan katabolisme dan pemecahan nutrient yang digunakan untuk sintesis jaringan dan pertumbuhan. Sementara malnutrisi dapat menjadi predisposisi terhadap terjadinya infeksi akibat penurunan kemampuan barrier proteksi kulit dan mukosa, serta perubahan fungsi respon imun. Keadaan ini seringkali mengakibatkan penurunan energi disertai defisiensi mikronutrien.
Survei Kesehatan Nasional yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2001 menunjukkan bahwa sekitar 9,4% kematian pada bayi dan 13,2% kematian pada anak usia 1-4 tahun adalah akibat infeksi diare. Shigella spp. merupakan penyebab infeksi diare yang dominan untuk negara berkembang. Setiap tahun, diperkirakan ada sekitar 164,7 juta kasus infeksi diare yang disebabkan oleh kuman Shigella, dan 163,2 juta di antaranya terjadi di negara berkembang.
Laporan epidemiologi menunjukkan bahwa 600.000 dari 140 juta pasien shigellosis meninggal setiap tahun di seluruh dunia. Data di Indonesia memperlihatkan 29% kematian diare terjadi pada umur 1 sampai 4 tahun disebabkan oleh Disentri basiler. Laporan dari di Amerika Serikat memperkirakan sebanyak 6000 dari 450.000 kasus diare per tahun dirawat di rumah sakit,di Inggris 20.000-50.000 kasus per tahun, sedangkan di Mediterania Timur dilaporkan kematian ± 40.000 kasus (rata rata case fatality rate 4%).
B. Tujuan
1. Agar mahasiswa dapat mengetahui alat bahan yang digunakan dalam pemeriksaan Shigella
2. Agar mahasiswa dapat melakukan identifikasi Shigella pada sampel makanan dan minuman
C. Alat dan Bahan
1. Alat
- Tabung reaksi
- Gelas ukur
- Pipet ukur 10 ml
- Petridish
- Beaker glass
- Incubator
- Autoclave
- Lampu spritus
- Balp
- Ose
2. Bahan
- Sampel Makanan dan Minuman
- SS Agar
- TSIA
D. Prosedur Kerja
Hari I
Specimen ditanam pada media SS Agar, stelah itu masukkan kedalam incubator dengan suhu 37oC selama 1 x 24 jam.
Hari II
- Koloni yang tersangka dimedia SS Agar : kecil-kecil, tidak berwarna, jerni smooth.
Masing-masing koloni dari media isolatie tersebut d atau ditanam pada media TSIA, kemudian dimasukkan ke dalam inkbator dengan suhu 37oC selama 1 x 24 jam.
Hari III
Mengamati pertumbuhan koloni dimedia TSIA dan dicocokkan dengan tabel. Kemudian dari koloni TSIA baik yang tersangka golongan shigella maupun tidak tersangka, ditanam pada media gula-gula, dan kemudian dimasukkan ke incubator dengan suhu 37oC selama 1 x 24 jam.
Hari IV
Kemudian diamati pertumbuhan pada media gula-gula, dan dicocokkan dengan daftar media gula-gula.
E. Hasil
Berdasarkan praktikum yang dilakukan dengan menggunakan sampel makanan(ikan bakar) didapatkan hasil sebagai berikut :
2. Sampel Makanan
- Hari I : penanaman
- Hari II : ( - ) negatif; pada media SS Agar
F. Analisa Hasil
Seperti yang kita ketahui, Shigella merupakan bakteri pathogen yang dapat menginfeksi saluran pencernaan. Shigella dapat tumbuh secara optimum pada suhu 37ÂșC . Sehingga Shigella dapat tumbuh dengan baik.
Tetapi berdasarkan hasil yang didapatkan pada pemeriksaan, bahwa pada sampel tersebut negatif(-) terkontaminasi bakteri Shigella, hal ini dapat dilihat pada media TSIA didapatkan hasil yang negatif sehingga tidak dilanjutkan pada media gula-gula.
Meskipun demikian, hasil yang didapatkan pada sampel negatif Shigella tidak menutup kemungkinan adanya bakteri lain pada sampel tersebut, hal ini dikarenakan pada media SS Agar didapatti koloni yang tersangka. Seperti yang diketahui Shigella sonnei dapat hidup pada suhu 45oC.
G. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan analisa diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa, pada sampel makanan dan minuman tersebut tidak terkontaminasi bakteri Shigella, tetapi kemungkinan terkontaminasi oleh bakteri jenis lain.
DAFTAR PUSTAKA
Dwijoseputro, D.Prof Dr. 1998. Dasar-dasar Mikrobiologi. Penerbit Djambatan.Jakarta.
Setiya Dewi Megasari, 2012, Laporan Praktikum Penyehatan Makanan, http://setiya-dewi-megasari.blogspot.com/2012/01/laporan-praktikum-penyehatan-makanan.html
http://www.pintarbiologi.com/2016/03/praktikum-mikrobiologi-pemeriksaan-salmonella-pada-bahan-pangan.html
http://lmirlankameri.blogspot.co.id/2011/05/makalah-salmonella-typhi.html
MATA KULIAH : PMM - A
DOSEN PENGAJAR : KHIKI PURNAWATI KASIM , S.ST.,M.kes
LAPORAN PEMERIKSAAN BORAKS,FORMALIN,RHODAMIN B DAN METANHYL YELLOW PADA MAKANAN
DI SUSUN OLEH
NAMA : RISKI
NIM : PO714221161061
KELAS : D.IV / II B
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLTEKKES KEMENKES MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PROGRAM D IV
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Makanan adalah bahan, biasanya berasal dari hewan atau tumbuhan, yang dimakan oleh makhluk hidup mendapatkan tenaga dan nutrisi. Cairan yang dipakai untuk maksud ini sering disebut minuman, tetapi kata 'makanan' juga bisa dipakai. Istilah ini kadang-kadang dipakai dengan kiasan, seperti "makanan untuk pemikiran". Kecukupan makanan dapat dinilai dengan status gizi secara antropometri.Makanan yang dibutuhkan manusia biasanya diperoleh dari hasil bertani atau berkebun yang meliputi sumber hewan, dan tumbuhan. Beberapa orang menolak untuk memakan makanan dari hewan seperti, daging, telur, dan lain-lain. Mereka yang tidak suka memakan daging, dan sejenisnya disebut vegetarian yaitu orang yang hanya memakan sayuran sebagai makanan pokok mereka.Pada umumnya bahan makanan mengandung beberapa unsur atau senyawa seperti air, karbohidrat, protein, lemak, vitamin, enzim, pigmen dan lain-lain.
Dalam produksi pangan olahan sangat dibutuhkan berbagai bahan pendukung yang dapat membuat produk yang dihasilkan bercita rasa lezat, berpenampilan menarik, tahan lama, serta mudah dalam pengangkutan dan pendistribusian. Adapun bahan pendukung itu lazim disebut bahan tambahan makanan (BTM/Food additive) atau zat Aditif.Yang dimaksud dari BTM sendiri berdasarkan FAO-WHO adalah bahan-bahan yang ditambahkan secara sengaja ke dalam makanan dalam jumlah tertentu dan berfungsi untuk memperbaiki warna, bentuk, cita rasa, tekstur, dan memperpanjang masa simpan.
Bahan Tambahan Pangan (BTP) adalah bahan atau campuran bahan yang secara alami bukan merupakan bagian dari bahan baku pangan, tetapi ditambahkan kedalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan antara lain bahan pewarna, pengawet, penyedap rasa, anti gumpal, pemucat dan pengental.Didalam peraturan Mentri Kesehatan RI No.722/Menkes/Per/IX/88 dijelaskan juga bahwa BTP adalah bahan yang biasanya tidak digunakan sebagai makanan dan biasanya bukan merupakan ingredien khas makanan, mempunyai atau tidak mempunyai nilai gizi yang sengaja ditambahkan kedalam makanan untuk maksud tekhnologi pada pembuatan, pengolahan, penyiapan, perlakuan, pengepakan, pengemasan, penyimpanan atau pengangkutan makanan untuk menghasilkan suatu komponen atau mempengaruhi sifat khas makanan tersebut.
B. TUJUAN
a.Untuk mengetahui bagaimana pemeriksaan Boraks pada makanan
b.Untuk mengetahui bagaimana pemeriksaan Formalin pada makanan
c.Untuk mengetahui bagaimana pemeriksaan Rhodamin B pada makanan
d.Untuk mengetahui bagaimana pemeriksaan Methyl Yellow pada makanan
BAB II
LANDASAN TEORI
A. FORMALIN
Formalin adalah nama dagang larutan formaldehid dalam air dengan kadar 30-40 persen. Di pasaran, formalin dapat diperoleh dalam bentuk yang sudah diencerkan , yaitu dengan kadar formaldehidnya 40, 30, 20 dan 10 persen serta dalam bentuk tablet yang beratnya masing - masing sekitar 5 gram.Formalin adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk. Di dalam formalin terkandung sekitar 37% formaldehid dalam air. Biasanya ditambahkan methanol hingga 15% sebagai pengawet (Handayani, 2006). Formalin memiliki sejumlah nama kimia diantaranya formol, methylene aldehyde, paraforin, morbicid, oxomethane, polyoxymethylene glycols, methanol, formoform, superlysoform, formic aldehyde, formalith, tetraoxymethylene, methyl oxide, karsan, trioxane, oxymethylene dan methylene glycol (Nurheti, 2007). Formalin yang biasa ditambahkan pada makanan adalah larutan 30- 50% gas formaldehid, untuk stabilitas dalam larutan formalin biasa nya mengandung methanol 10-15%. Formalin mempunyai bau menyengat dan dapat menimbulkan pedih pada mata. Senyawa ini termasuk golongan aldehid paling sederhana karena hanya mempunyai satu atom karbon (Murtini dan Widyaningsih, 2006).
Fungsi formalin yaitu Formalin sudah sangat umum digunakan dalam kehidupan sehari- hari. Apabila digunakan secara benar, formalin akan banyak kita rasakan manfaatnya, misalnya sebagai antibakteri atau pembunuh kuman dalam berbagai keperluan jenis industri, yakni pembersih lantai, kapal, gudang dn pakaian, pembasmi lalat maupun berbagai serangga lainnya. Dalam dunia fotografi biasanya digunakan sebagai pengeras lapisan gelatin dan kertas. Formalin kerap digunakan sebagai bahan pembuatan pupuk urea, produk parfum, pengawet produk kosmetika, pengeras kuku dan bahan untuk insulasi busa. Formalin boleh juga dipakai sebagai pencegah korosi untuk sumur minyak. Di bidang industri kayu, formalin digunakan sebagai bahan perekat untuk produk kayu lapis (plywood). Dalam konsentrasi yang sangat kecil (<1 persen) digunakan sebagai pengawet untuk berbagai barang konsumen sepertinpembersih rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut, perawat sepatu, shampoo mobil, llin dan karpet. Di dalam industri perikanan, formalin digunakan menghilangkan bakteri yang biasa hidup di sisik ikan. Formalin diketahui sering digunakan dan efektif dalam pengobatan penyakit ikan akibat ektoparasit seperti fluke dan kulit berlendir. Meskipun demikian, bahan ini juga sangat beracun bagi ikan. Ambang batas amannya sangat rendah sehingga terkadang ikan yang diobati malah mati akibat formalin daripada akibat penyakitnya. Formalin banyak digunakan dalam pengawetan sampel ikan untuk keperluan penelitian dan identifikasi. Di dunia kedoktera n formalin digunakan dalam pengawetan mayat (Yuliarti, 2007).
Sifat formalin yaitu Formaldehid adalah salah satu zat tambahan makanan yang dilarang. Dipasaran zat ini dikenal dengan nama formalin. Senyawa ini dipasaran dikenal dengan nama formalin dengan rumus CH2O. Formalin adalah nama komersil dari senyawa formalin yang mengandung 35 - 40 % dalam air. Formalin termasuk kelompok senyawa disinfektan kuat yang sering dipakai sebagai bahan pengawet mayat tetapi dapat juga digunakan sebagai pengawet makanan, walaupun formalin tidak diizinkan untuk bahan pengawet makanan serta bahan tambahan. senyawa asam, Itulah sebabnya tahu atau makanan berformalin lainnya menjadi lebih awet.Formaldehida membunuh bakteri dengan membuat jaringan dalam bakteri dehidrasi (kekurangan air), sehingga sel bakteri akan kering dan membentuk lapisan baru di permukaan. Artinya, formalin tidak saja membunuh bakteri, tetapi juga membentuk lapisan baru yang melindungi lapisan di bawahnya, supaya tahan terhadap serangan bakteri lain. Bila desinfektan lainnya mendeaktifasikan serangan bakteri dengan cara membunuh dan tidak bereaksi dengan bahan yang dilindungi, maka formaldehida akan bereaksi secara kimiawi dan tetap ada di dalam materi tersebut untuk melindungi dari serangan berikutnya. Melihat sifatnya, formalin juga sudah tentu akan menyerang protein yang banyak terdapat di dalam tubuh manusia seperti pada lambung. Terlebih, bila formalin yang masuk ke tubuh itu memiliki dosis tinggi.
b. Rhodamin B
Pengertian rhodamin B dalam dunia perdagangan sering dikenal dengan nama tetra ethyl rhodamin, rheonine B, D dan Red no. 19, C.I. Basic violet 10, C.I. No. 45170 (Yuliarti, 2007). Rhodamin B adalah zat warna sintetis berbentuk serbuk kristal, berwarna hijau atau ungu kemerahan, tidak berbau, dan dalam larutan berwarna merah terang berfluorensi. Rhodamin B semula digunakan untuk kegiatan histologi dan sekarang berkembang untuk berbagai keperluan seperti sebagai pewarna kertas dan tekstil. Rhodamin B seringkali disalahgunakan untuk pewarna pangan dan pewarna kosmetik, misalnya sirup, lipstik, pemerah pipi, dan lain-lain. Pewarna ini terbuat dari dietillaminophenol dan phatalic anchidria dimana kedua bahan baku ini sangat toksik bagi manusia. Biasanya pewarna ini digunakan untuk pewarna kertas, wol, dan sutra (Djarismawati, 2004).
Rumus molekul dari rhodamin B adalah C28H31N2O3Cl dengan berat molekul sebesar 479.000. Sangat larut dalam air yang akan menghasilkan warna merah kebiru- biruan dan berfluorensi kuat. Rhodamin B juga merupakan zat yang larut dalam alkohol, HCl, dan NaOH, selain dalam air. Di dalam laboratorium, zat tersebut digunakan sebagai pereaksi untuk identifikasi Pb, Bi, Co, Au, Mg, dan Th, dan titik leburnya pada suhu 1650C (Devianti, 2009). Zat pewarna berupa kristal-kristal hijau atau serbuk ungu kemerahan, sangat larut dalam air dengan warna merah kebiruan dan sangat berfluorensi. Rhodamin B dapat menghasilkan warna yang menarik dengan hasil warna yang dalam dan sangat berpendar jika dilarutkan dalam air dan etanol (Rohman, 2007). Rhodamin B digunakan sebagai reagen untuk antimony, bismuth, tantalum, thallium, dan tungsten. Rhodamin B merupakan zat pewarna tekstil, sering digunakan untuk pewarna kapas wol, kertas, sutera, jerami, kulit, bambu, dan dari bahan warna dasar yang mempunyai warna terang sehingga banyak digunakan untuk bahan kertas karbon, bolpoin, minyak/oli, cat dan tinta gambar.
Ciri-ciri makanan yang mengandung rhodamin B (Devianti, 2009):
Warna kelihatan cerah (kemerahan atau merah terang), sehingga tampak menarik
Ada sedikit rasa pahit
Muncul rasa gatal di tenggorokan setelah mengonsumsinya.
Baunya tidak alami sesuai makanannya
Bahaya utama terhadap kesehatan pemakaian dalam waktu lama (kronis) dapat menyebabkan radang kulit dan alergi. Penggunaan rhodamin B pada makanan dalam waktu yang lama akan dapat mengakibatkan gangguan fungsi hati maupun kanker (Yuliarti, 2007).
c. Boraks
Boraks berasal dari bahasa Arab yaitu Bouraq. Merupakan kristal lunak yang mengandung unsur boron, berwarna dan mudah larut dalam air.Boraks merupakan garam Natrium Na2 B4O7 10H2O yang banyak digunakan dalam berbagai industri non pangan khususnya industri kertas, gelas, pengawet kayu, dan keramik. Gelas pyrex yang terkenal dibuat dengan campuran boraks. . Boraks biasa berupa serbuk kristal putih, tidak berbau, mudah larut dalam air, tetapi borakstidak dapat larut dalam alkohol. Boraks biasa digunakan sebagai pengawet dan antiseptic kayu. Daya pengawet yang kuat dari boraks berasal dari kandungan asam borat didalamnya.Boraks sejak lama telah digunakan masyarakat untuk pembuatan gendar nasi, kerupuk gendar, atau kerupuk puli yang secara tradisional di Jawa disebut “Karak” atau “Lempeng”. Disamping itu boraks digunakan untuk industri makanan seperti dalam pembuatan mie basah, lontong, ketupat, bakso bahkan dalam pembuatan kecap.Boraks sejak lama telah digunakan masyarakat untuk pembuatan gendar nasi, kerupuk gendar, atau kerupuk puli yang secara tradisional di Jawa disebut “Karak” atau “Lempeng”. Disamping itu boraks digunakan untuk industri makanan seperti dalam pembuatan mie basah, lontong, ketupat, bakso bahkan dalam pembuatan kecap.Boraks yang dikonsumsi cukup tinggi dapat menyebabkan gejala pusing, muntah, mencret, kejang perut, kerusakan ginjal, hilang nafsu makan.
Berikut ciri-ciri makanan yang mengandung boraks:
-Darisegiwarna
Makanan yang mengandung boraks biasanya mempunyai warna yang lebih mencolok dan lebih cerah dibanding makanan yang lainnya.
-Darisegitekstur
Makanan yang mengandung boraks mempunyai tekstur kenyal saat dimakan. Makanan ini juga terlihat lebih segar dan cerah dibanding makanan lainnya.
-Miebasah
Mie basah merupakan salah satu makanan yang paling banyak ditemukan mengandung boraks. Mie basah yang mengandung boraks mempunyai ciri lebih kenyal, lebih mengkilap, tidak lengket, dan tidak cepat putus.
-Bakso
Pedagang nakal banyak menggunakan boraks untuk membuat bakso. Ciri bakso yang mengandung boraks itu adalah, teksturnya kenyal dan warnanya cenderung keputihan dibanding bakso lainnya.
-Kerupuk
Ternyata penggunaan boraks juga ada pada kerupuk. Kerupuk yang mengandung boraks mempunyai ciri sangat renyah, namun memberi sedikit rasa getir.
d. Metanhyl Yellow
Methanyl Yellow / Metanil yellow atau kuning metanil merupakan zat warna sintetis berbentuk serbuk, padat, berwarna kuning kecoklatan. Kuning metanil umumnya digunakan sebagai pewarna tekstil, dan cat.Saat ini banyak kuning metanildi salah gunakan untuk pangan, beberapa telah ditemukan untuk beberapa jenis pangan di antaranya, kerupuk, mie,pangan jajanan berwarna kuning dan banyak juga sebagai pewarna pada tahu. Ciri pangan dengan pewarna kuning metanil biasanya, berwarna kuning menyolok dan cenderung berpendar, banyak memberikan titik-titik warna karena tidak homogen (misalnya pada kerupuk).
Zat pewarna kuning Metanil yellow, merupakan zat pewarna industry tekstil yangdilarang untuk produk makanan, yang pada umumnya menggunakan zat anorganik ataupunmineral alam. Zat warna anorganik berasal dari persenyawaan logam berat seperti aluminium,besi, tembaga dan lainnya. Zat warna ini bersifat racun dan berbahaya karena mengandungresidu logam berat. Industri tekstil menggunakan logam berat sebagai bahan pengikat warnaagar warna warna yang dihasilkan menjadi lebih terang dan indah. Bahkan ada beberapaindustry tekstil yang menggunakan logam berat sebagai bahan pewarna. Logam berat yangterkandung di dalam pewarna tekstil dapat dilihat dari jenis limbah yang dihasilkan industrytekstil tersebut, terutama arsenic (Ar), Kadmium (Cd), krom (Cr), timbal (Pb), tembaga (Cu),zinc/seng (Zn) (Agus widodo, 2006)
Ciri-ciri pangan yang mengandung methanil yellow antara lain:
warnanya kuning mencolok dan kecenderungan warnanya berpendar.;
banyak memberikan titik-titik warna yang tidak merata dan terkadang warna terlihat tidak homogen (rata) seperti pada kerupuk;
bila dikonsumsi rasanya sedikit lebih pahit;
Pemakaian methanil yellow dapat menimbulkan iritasi pada pencernaan. Toksikosis kronis jangka panjang Metanil Yellow sangat membahayakan sistem tubuh manusia, tidak hanya ginjal dan gagal hati tapi kadang-kadang dapat menghasilkan karsinoma. Apabila tertelan, bisa menyebabkan mual, muntah, sakit perut, diare, panas, rasa tidak enak dan tekanan darah rendah.
BAB III
METODELOGI PRAKTIKUM
A. Pemeriksaan formalin pada makanan
1. Alat :
a. Petridish
b. Pipet tetes
c. Beaker glass
d. Pengaduk
e. Tabung reaksi
f. Gelas ukur
g. Lumpang
h. Timbangan
2. Bahan :
a. Sampel (Ikan)
b. Aquadest
c. Larutan reagent FO 1
d. Larutan reagent FO 2
e. Larutan standar Formaldehyd
3. Prosedur kerja
1. Timbang sampel sebanyak 25 gr.
2. Gerus sampi halus.
3. Tambahkan 50 ml aquadest
4. Masukkan dalam tabung sampel(Ikan)
5. Tambahkan 5 tetes larutan FO 1 tunggu 3 menit
6. Tambahakan 1 sendok reagent FO 2 tunggu selama 5 menit
7. Bandingkan dengan larutan standart
8. Amati warna yang terjadi pada sampel.(ikan)
B. Pemeriksaan Rhodamin B pada makanan
1. Alat :
a. Petridish
b. Pipet tetes
c. Beaker glass
d. Pengaduk
e. Tabung reaksi
f. Gelas ukur
2. Bahan :
a. Reagen Rhodamine –B1
b. Larutan standar Rhodamine – B
c. Sampel makanan (Cimol ) dan sampel minuman (jas jus)
d. Aquadest
3. Prosedur Kerja
1. Sipakan beaker glass dan masukkan sampel makanan(Cimol) 25 gr dalam volume 50 ml aquadest
2. Hancurkan sampel dengan pengaduk sampai larut seluruhnya.
3. Untuk sampel minuman(Jas jus) yang sudah cair tidak perlu dilakukuan
4. Siapakan tabung reaksi dan masukkan 3 tetes Reagent Rhodamin – B1
5. Tambahakan sampel sebanyak 5 ml secara perlahan dan diamkan beberapa saat.
6. Amati, jika terjadi perubahan warna Rhodamin – B tidak pekat warna menjadi putih kebiruan, dibandingkan deret standart warna Rhodamin – B.
7. Untuk lebih meyakinkan, bandingkan dengan standar Rhodamin – B yang diperlukan sebagai sampel.
C. Pemeriksaan Boraks pada makanan
1. Alat :
a. Lumpang
b. Petridish
c. Oven
d. Pipet ukur
e. Pipet tetes
f. Cawan porselin
2. Bahan :
a. Sampel Makanan (Kerupuk Gendar) Minuman ( Jas Jus)
b. Reagent boraks (B4O72)
c. Larutan standart boraks
d. Kertas boraks
3. Prosedur kerja
1. Timbang sampel sebanyak 25 gr
2. Haluskan dengan menggunakan lumpang
3. Tambahakan aquadest sebanyak 50 ml. aduk hingga homogen
4. Untuk sampel miniuman yang sudah cair, ambil 25 ml tambahkan aquadest sampai tanda 50 ml
5. Karena boraks dalam keadaan dingin memmbentuk garam sebaiknya sampel sebelum diperiksa dipanaskan terlebih dengan 800c selama 3-5 menit setelah tercapai.
6. Masukkan sampel sebanyak 5 ml ke dalam tabung
7. Tambahakan reagent boraks 1 sebanayak 3 tetes diaduk hingga rata.
8. Siapkan kertas boraks teteskan sampel pada perlakuan 2 pada permukaan 3 tetes dan diamk beberapa saat jika Pada boraks ( B4O72) akan terbentuk perubahan warna dari kuning menjadi merah.
9. Untuk lebih meyakinkan bandingkan dengan standart boraks.
D. Pemeriksaan Metanhyl Yellow pada makanan
1. Alat :
a. Lumpang
b. Petridish
c. Beaker glass
d. Pipet ukur
e. Pipet tetes
f. Cawan porselin
g. Tabung reaksi
2. Bahan :
a. Sampel makanan (kue bolu berwarna warni) minuman (jas jus)
b. Reagent Methanyl Yellow-1
c. Larutan standart warna methanyl yellow
d. Aquadest
3. Prosedur Kerja
1. Timbang sampel sebanyak 25 gr
2. Haluskan dengan menggunakan lumpang
3. Setelah itu tambahkan aquadest sampai tanda 50 ml.
4. Untuk sampel minuman yang sudah cair tidak perlu dilakukan perlakuan awal
5. Siapakan tabung reaksi, dan masukkan 0,5-1 ml sampel
6. Tambahkan Reagent Methanyl Yellow-1 sebanyak 2 tetes
7. Diamkan beberapa saat akan terbentuk warna merah muda seulas sampai pekat (merah tajam) menunjukkan methyl yellow positif
8. Bandingakan deret standar warna methyl yellow
9. Untuk lebih meyakinkan bandingkan dengan standart methanyl yellow yang diperluakan sebagian sampel
10. Bandingkan dengan larutan standart methanyl yellow
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
- pemeriksaan formalin pada makanan dilakukan dengan menimbang bahan / sampel yang akan diperiksa, menggerus dengan lumpang, menambahkan quadest, kemudian ditambahkan larutan FO-1 dan FO-2, lalu dibandingkan dengan larutan standar / warna yang umumnya mengandung formalin.Ada beberapa makanan yang umumnya disalahgunakan dengan penambahan formalin diantaranya adalah tahu, bakso, mie basah / kering, dan ikan basah. Dari makanan ini, umumnya makanan yang tergolong Perisahble Food (makanan yang tidak stabil mudah rusak).
- pemeriksaan rhodamin b jika sampel berbentuk warna ungu (violet) pada lapisan atas tabung reaksi , sampel positif mengandung rhodamin b
- pemeriksaan boraks pada makanan dengan menimbang sampel sebanyak 25 kg / 25 ml, dihaluskan (untuk sampel padat), tambahkan aquades sampai tanda 50 ml , kemudian sebelum diperiksa di panaskan di oven dengan suhu 80˚C selama 3-5 menit (karena dalam keadaan dingin boraks membentuk garam), masukkan sampel sebanyak 5 ml ke dalam tabung, tambahkan reagent Boraks 1-3 tetes, diamkan, kemudian akan terjadi perubahan warna kuning menjadi merah jika positif.
- pemeriksaan metanhyl yellow jika sampel warna kuning terang berpendar dan jika dipegang warna kuning akan menempel di kulit , sampel tersebut positi mengandung metahyl yellow
B. Saran
Dengan adanya makalah ini, para pembaca dapat menyadari seberapa penting kesehatan tubuh kita, agar selalu menjaga kekebalan tubuh dan tidak mengkonsumsi makanan – makanan yang tidak bersih dan selalu berhati – hati dalam memilih makanan yang akan dimakan/ diminum.
Daftar Pustaka
BPOM (2015). Formalin, Rhodamine-B, dan Borax Masih Beredar dalam Jajanan Pasar.
Budianto, Agus (2011). Formalin dalam kajian undang-undang kesehatan: Undang-Undang Pangan dan Perlindungan Konsumen. Jurnal Legislasi Indonesia, Vol. 8, No. 1.
Cahyadi, Wisnu (2009). Analisis dan aspek kesehatan bahan tambahan pangan. Jakarta: Bumi Aksara.
Effendi, Supli (2012). Teknologi pengolahan dan pengawetan pangan. Bandung: Alfabeta.