MATA KULIAH : PMM - A
DOSEN PENGAJAR : KHIKI PURNAWATI KASIM , S.ST.,M.kes
LAPORAN PEMERIKSAAN BORAKS,FORMALIN,RHODAMIN B DAN METANHYL YELLOW PADA MAKANAN
DI SUSUN OLEH
NAMA : RISKI
NIM : PO714221161061
KELAS : D.IV / II B
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLTEKKES KEMENKES MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PROGRAM D IV
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Makanan adalah bahan, biasanya berasal dari hewan atau tumbuhan, yang dimakan oleh makhluk hidup mendapatkan tenaga dan nutrisi. Cairan yang dipakai untuk maksud ini sering disebut minuman, tetapi kata 'makanan' juga bisa dipakai. Istilah ini kadang-kadang dipakai dengan kiasan, seperti "makanan untuk pemikiran". Kecukupan makanan dapat dinilai dengan status gizi secara antropometri.Makanan yang dibutuhkan manusia biasanya diperoleh dari hasil bertani atau berkebun yang meliputi sumber hewan, dan tumbuhan. Beberapa orang menolak untuk memakan makanan dari hewan seperti, daging, telur, dan lain-lain. Mereka yang tidak suka memakan daging, dan sejenisnya disebut vegetarian yaitu orang yang hanya memakan sayuran sebagai makanan pokok mereka.Pada umumnya bahan makanan mengandung beberapa unsur atau senyawa seperti air, karbohidrat, protein, lemak, vitamin, enzim, pigmen dan lain-lain.
Dalam produksi pangan olahan sangat dibutuhkan berbagai bahan pendukung yang dapat membuat produk yang dihasilkan bercita rasa lezat, berpenampilan menarik, tahan lama, serta mudah dalam pengangkutan dan pendistribusian. Adapun bahan pendukung itu lazim disebut bahan tambahan makanan (BTM/Food additive) atau zat Aditif.Yang dimaksud dari BTM sendiri berdasarkan FAO-WHO adalah bahan-bahan yang ditambahkan secara sengaja ke dalam makanan dalam jumlah tertentu dan berfungsi untuk memperbaiki warna, bentuk, cita rasa, tekstur, dan memperpanjang masa simpan.
Bahan Tambahan Pangan (BTP) adalah bahan atau campuran bahan yang secara alami bukan merupakan bagian dari bahan baku pangan, tetapi ditambahkan kedalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan antara lain bahan pewarna, pengawet, penyedap rasa, anti gumpal, pemucat dan pengental.Didalam peraturan Mentri Kesehatan RI No.722/Menkes/Per/IX/88 dijelaskan juga bahwa BTP adalah bahan yang biasanya tidak digunakan sebagai makanan dan biasanya bukan merupakan ingredien khas makanan, mempunyai atau tidak mempunyai nilai gizi yang sengaja ditambahkan kedalam makanan untuk maksud tekhnologi pada pembuatan, pengolahan, penyiapan, perlakuan, pengepakan, pengemasan, penyimpanan atau pengangkutan makanan untuk menghasilkan suatu komponen atau mempengaruhi sifat khas makanan tersebut.
B. TUJUAN
a.Untuk mengetahui bagaimana pemeriksaan Boraks pada makanan
b.Untuk mengetahui bagaimana pemeriksaan Formalin pada makanan
c.Untuk mengetahui bagaimana pemeriksaan Rhodamin B pada makanan
d.Untuk mengetahui bagaimana pemeriksaan Methyl Yellow pada makanan
BAB II
LANDASAN TEORI
A. FORMALIN
Formalin adalah nama dagang larutan formaldehid dalam air dengan kadar 30-40 persen. Di pasaran, formalin dapat diperoleh dalam bentuk yang sudah diencerkan , yaitu dengan kadar formaldehidnya 40, 30, 20 dan 10 persen serta dalam bentuk tablet yang beratnya masing - masing sekitar 5 gram.Formalin adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk. Di dalam formalin terkandung sekitar 37% formaldehid dalam air. Biasanya ditambahkan methanol hingga 15% sebagai pengawet (Handayani, 2006). Formalin memiliki sejumlah nama kimia diantaranya formol, methylene aldehyde, paraforin, morbicid, oxomethane, polyoxymethylene glycols, methanol, formoform, superlysoform, formic aldehyde, formalith, tetraoxymethylene, methyl oxide, karsan, trioxane, oxymethylene dan methylene glycol (Nurheti, 2007). Formalin yang biasa ditambahkan pada makanan adalah larutan 30- 50% gas formaldehid, untuk stabilitas dalam larutan formalin biasa nya mengandung methanol 10-15%. Formalin mempunyai bau menyengat dan dapat menimbulkan pedih pada mata. Senyawa ini termasuk golongan aldehid paling sederhana karena hanya mempunyai satu atom karbon (Murtini dan Widyaningsih, 2006).
Fungsi formalin yaitu Formalin sudah sangat umum digunakan dalam kehidupan sehari- hari. Apabila digunakan secara benar, formalin akan banyak kita rasakan manfaatnya, misalnya sebagai antibakteri atau pembunuh kuman dalam berbagai keperluan jenis industri, yakni pembersih lantai, kapal, gudang dn pakaian, pembasmi lalat maupun berbagai serangga lainnya. Dalam dunia fotografi biasanya digunakan sebagai pengeras lapisan gelatin dan kertas. Formalin kerap digunakan sebagai bahan pembuatan pupuk urea, produk parfum, pengawet produk kosmetika, pengeras kuku dan bahan untuk insulasi busa. Formalin boleh juga dipakai sebagai pencegah korosi untuk sumur minyak. Di bidang industri kayu, formalin digunakan sebagai bahan perekat untuk produk kayu lapis (plywood). Dalam konsentrasi yang sangat kecil (<1 persen) digunakan sebagai pengawet untuk berbagai barang konsumen sepertinpembersih rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut, perawat sepatu, shampoo mobil, llin dan karpet. Di dalam industri perikanan, formalin digunakan menghilangkan bakteri yang biasa hidup di sisik ikan. Formalin diketahui sering digunakan dan efektif dalam pengobatan penyakit ikan akibat ektoparasit seperti fluke dan kulit berlendir. Meskipun demikian, bahan ini juga sangat beracun bagi ikan. Ambang batas amannya sangat rendah sehingga terkadang ikan yang diobati malah mati akibat formalin daripada akibat penyakitnya. Formalin banyak digunakan dalam pengawetan sampel ikan untuk keperluan penelitian dan identifikasi. Di dunia kedoktera n formalin digunakan dalam pengawetan mayat (Yuliarti, 2007).
Sifat formalin yaitu Formaldehid adalah salah satu zat tambahan makanan yang dilarang. Dipasaran zat ini dikenal dengan nama formalin. Senyawa ini dipasaran dikenal dengan nama formalin dengan rumus CH2O. Formalin adalah nama komersil dari senyawa formalin yang mengandung 35 - 40 % dalam air. Formalin termasuk kelompok senyawa disinfektan kuat yang sering dipakai sebagai bahan pengawet mayat tetapi dapat juga digunakan sebagai pengawet makanan, walaupun formalin tidak diizinkan untuk bahan pengawet makanan serta bahan tambahan. senyawa asam, Itulah sebabnya tahu atau makanan berformalin lainnya menjadi lebih awet.Formaldehida membunuh bakteri dengan membuat jaringan dalam bakteri dehidrasi (kekurangan air), sehingga sel bakteri akan kering dan membentuk lapisan baru di permukaan. Artinya, formalin tidak saja membunuh bakteri, tetapi juga membentuk lapisan baru yang melindungi lapisan di bawahnya, supaya tahan terhadap serangan bakteri lain. Bila desinfektan lainnya mendeaktifasikan serangan bakteri dengan cara membunuh dan tidak bereaksi dengan bahan yang dilindungi, maka formaldehida akan bereaksi secara kimiawi dan tetap ada di dalam materi tersebut untuk melindungi dari serangan berikutnya. Melihat sifatnya, formalin juga sudah tentu akan menyerang protein yang banyak terdapat di dalam tubuh manusia seperti pada lambung. Terlebih, bila formalin yang masuk ke tubuh itu memiliki dosis tinggi.
b. Rhodamin B
Pengertian rhodamin B dalam dunia perdagangan sering dikenal dengan nama tetra ethyl rhodamin, rheonine B, D dan Red no. 19, C.I. Basic violet 10, C.I. No. 45170 (Yuliarti, 2007). Rhodamin B adalah zat warna sintetis berbentuk serbuk kristal, berwarna hijau atau ungu kemerahan, tidak berbau, dan dalam larutan berwarna merah terang berfluorensi. Rhodamin B semula digunakan untuk kegiatan histologi dan sekarang berkembang untuk berbagai keperluan seperti sebagai pewarna kertas dan tekstil. Rhodamin B seringkali disalahgunakan untuk pewarna pangan dan pewarna kosmetik, misalnya sirup, lipstik, pemerah pipi, dan lain-lain. Pewarna ini terbuat dari dietillaminophenol dan phatalic anchidria dimana kedua bahan baku ini sangat toksik bagi manusia. Biasanya pewarna ini digunakan untuk pewarna kertas, wol, dan sutra (Djarismawati, 2004).
Rumus molekul dari rhodamin B adalah C28H31N2O3Cl dengan berat molekul sebesar 479.000. Sangat larut dalam air yang akan menghasilkan warna merah kebiru- biruan dan berfluorensi kuat. Rhodamin B juga merupakan zat yang larut dalam alkohol, HCl, dan NaOH, selain dalam air. Di dalam laboratorium, zat tersebut digunakan sebagai pereaksi untuk identifikasi Pb, Bi, Co, Au, Mg, dan Th, dan titik leburnya pada suhu 1650C (Devianti, 2009). Zat pewarna berupa kristal-kristal hijau atau serbuk ungu kemerahan, sangat larut dalam air dengan warna merah kebiruan dan sangat berfluorensi. Rhodamin B dapat menghasilkan warna yang menarik dengan hasil warna yang dalam dan sangat berpendar jika dilarutkan dalam air dan etanol (Rohman, 2007). Rhodamin B digunakan sebagai reagen untuk antimony, bismuth, tantalum, thallium, dan tungsten. Rhodamin B merupakan zat pewarna tekstil, sering digunakan untuk pewarna kapas wol, kertas, sutera, jerami, kulit, bambu, dan dari bahan warna dasar yang mempunyai warna terang sehingga banyak digunakan untuk bahan kertas karbon, bolpoin, minyak/oli, cat dan tinta gambar.
Ciri-ciri makanan yang mengandung rhodamin B (Devianti, 2009):
Warna kelihatan cerah (kemerahan atau merah terang), sehingga tampak menarik
Ada sedikit rasa pahit
Muncul rasa gatal di tenggorokan setelah mengonsumsinya.
Baunya tidak alami sesuai makanannya
Bahaya utama terhadap kesehatan pemakaian dalam waktu lama (kronis) dapat menyebabkan radang kulit dan alergi. Penggunaan rhodamin B pada makanan dalam waktu yang lama akan dapat mengakibatkan gangguan fungsi hati maupun kanker (Yuliarti, 2007).
c. Boraks
Boraks berasal dari bahasa Arab yaitu Bouraq. Merupakan kristal lunak yang mengandung unsur boron, berwarna dan mudah larut dalam air.Boraks merupakan garam Natrium Na2 B4O7 10H2O yang banyak digunakan dalam berbagai industri non pangan khususnya industri kertas, gelas, pengawet kayu, dan keramik. Gelas pyrex yang terkenal dibuat dengan campuran boraks. . Boraks biasa berupa serbuk kristal putih, tidak berbau, mudah larut dalam air, tetapi borakstidak dapat larut dalam alkohol. Boraks biasa digunakan sebagai pengawet dan antiseptic kayu. Daya pengawet yang kuat dari boraks berasal dari kandungan asam borat didalamnya.Boraks sejak lama telah digunakan masyarakat untuk pembuatan gendar nasi, kerupuk gendar, atau kerupuk puli yang secara tradisional di Jawa disebut “Karak” atau “Lempeng”. Disamping itu boraks digunakan untuk industri makanan seperti dalam pembuatan mie basah, lontong, ketupat, bakso bahkan dalam pembuatan kecap.Boraks sejak lama telah digunakan masyarakat untuk pembuatan gendar nasi, kerupuk gendar, atau kerupuk puli yang secara tradisional di Jawa disebut “Karak” atau “Lempeng”. Disamping itu boraks digunakan untuk industri makanan seperti dalam pembuatan mie basah, lontong, ketupat, bakso bahkan dalam pembuatan kecap.Boraks yang dikonsumsi cukup tinggi dapat menyebabkan gejala pusing, muntah, mencret, kejang perut, kerusakan ginjal, hilang nafsu makan.
Berikut ciri-ciri makanan yang mengandung boraks:
-Darisegiwarna
Makanan yang mengandung boraks biasanya mempunyai warna yang lebih mencolok dan lebih cerah dibanding makanan yang lainnya.
-Darisegitekstur
Makanan yang mengandung boraks mempunyai tekstur kenyal saat dimakan. Makanan ini juga terlihat lebih segar dan cerah dibanding makanan lainnya.
-Miebasah
Mie basah merupakan salah satu makanan yang paling banyak ditemukan mengandung boraks. Mie basah yang mengandung boraks mempunyai ciri lebih kenyal, lebih mengkilap, tidak lengket, dan tidak cepat putus.
-Bakso
Pedagang nakal banyak menggunakan boraks untuk membuat bakso. Ciri bakso yang mengandung boraks itu adalah, teksturnya kenyal dan warnanya cenderung keputihan dibanding bakso lainnya.
-Kerupuk
Ternyata penggunaan boraks juga ada pada kerupuk. Kerupuk yang mengandung boraks mempunyai ciri sangat renyah, namun memberi sedikit rasa getir.
d. Metanhyl Yellow
Methanyl Yellow / Metanil yellow atau kuning metanil merupakan zat warna sintetis berbentuk serbuk, padat, berwarna kuning kecoklatan. Kuning metanil umumnya digunakan sebagai pewarna tekstil, dan cat.Saat ini banyak kuning metanildi salah gunakan untuk pangan, beberapa telah ditemukan untuk beberapa jenis pangan di antaranya, kerupuk, mie,pangan jajanan berwarna kuning dan banyak juga sebagai pewarna pada tahu. Ciri pangan dengan pewarna kuning metanil biasanya, berwarna kuning menyolok dan cenderung berpendar, banyak memberikan titik-titik warna karena tidak homogen (misalnya pada kerupuk).
Zat pewarna kuning Metanil yellow, merupakan zat pewarna industry tekstil yangdilarang untuk produk makanan, yang pada umumnya menggunakan zat anorganik ataupunmineral alam. Zat warna anorganik berasal dari persenyawaan logam berat seperti aluminium,besi, tembaga dan lainnya. Zat warna ini bersifat racun dan berbahaya karena mengandungresidu logam berat. Industri tekstil menggunakan logam berat sebagai bahan pengikat warnaagar warna warna yang dihasilkan menjadi lebih terang dan indah. Bahkan ada beberapaindustry tekstil yang menggunakan logam berat sebagai bahan pewarna. Logam berat yangterkandung di dalam pewarna tekstil dapat dilihat dari jenis limbah yang dihasilkan industrytekstil tersebut, terutama arsenic (Ar), Kadmium (Cd), krom (Cr), timbal (Pb), tembaga (Cu),zinc/seng (Zn) (Agus widodo, 2006)
Ciri-ciri pangan yang mengandung methanil yellow antara lain:
warnanya kuning mencolok dan kecenderungan warnanya berpendar.;
banyak memberikan titik-titik warna yang tidak merata dan terkadang warna terlihat tidak homogen (rata) seperti pada kerupuk;
bila dikonsumsi rasanya sedikit lebih pahit;
Pemakaian methanil yellow dapat menimbulkan iritasi pada pencernaan. Toksikosis kronis jangka panjang Metanil Yellow sangat membahayakan sistem tubuh manusia, tidak hanya ginjal dan gagal hati tapi kadang-kadang dapat menghasilkan karsinoma. Apabila tertelan, bisa menyebabkan mual, muntah, sakit perut, diare, panas, rasa tidak enak dan tekanan darah rendah.
BAB III
METODELOGI PRAKTIKUM
A. Pemeriksaan formalin pada makanan
1. Alat :
a. Petridish
b. Pipet tetes
c. Beaker glass
d. Pengaduk
e. Tabung reaksi
f. Gelas ukur
g. Lumpang
h. Timbangan
2. Bahan :
a. Sampel (Ikan)
b. Aquadest
c. Larutan reagent FO 1
d. Larutan reagent FO 2
e. Larutan standar Formaldehyd
3. Prosedur kerja
1. Timbang sampel sebanyak 25 gr.
2. Gerus sampi halus.
3. Tambahkan 50 ml aquadest
4. Masukkan dalam tabung sampel(Ikan)
5. Tambahkan 5 tetes larutan FO 1 tunggu 3 menit
6. Tambahakan 1 sendok reagent FO 2 tunggu selama 5 menit
7. Bandingkan dengan larutan standart
8. Amati warna yang terjadi pada sampel.(ikan)
B. Pemeriksaan Rhodamin B pada makanan
1. Alat :
a. Petridish
b. Pipet tetes
c. Beaker glass
d. Pengaduk
e. Tabung reaksi
f. Gelas ukur
2. Bahan :
a. Reagen Rhodamine –B1
b. Larutan standar Rhodamine – B
c. Sampel makanan (Cimol ) dan sampel minuman (jas jus)
d. Aquadest
3. Prosedur Kerja
1. Sipakan beaker glass dan masukkan sampel makanan(Cimol) 25 gr dalam volume 50 ml aquadest
2. Hancurkan sampel dengan pengaduk sampai larut seluruhnya.
3. Untuk sampel minuman(Jas jus) yang sudah cair tidak perlu dilakukuan
4. Siapakan tabung reaksi dan masukkan 3 tetes Reagent Rhodamin – B1
5. Tambahakan sampel sebanyak 5 ml secara perlahan dan diamkan beberapa saat.
6. Amati, jika terjadi perubahan warna Rhodamin – B tidak pekat warna menjadi putih kebiruan, dibandingkan deret standart warna Rhodamin – B.
7. Untuk lebih meyakinkan, bandingkan dengan standar Rhodamin – B yang diperlukan sebagai sampel.
C. Pemeriksaan Boraks pada makanan
1. Alat :
a. Lumpang
b. Petridish
c. Oven
d. Pipet ukur
e. Pipet tetes
f. Cawan porselin
2. Bahan :
a. Sampel Makanan (Kerupuk Gendar) Minuman ( Jas Jus)
b. Reagent boraks (B4O72)
c. Larutan standart boraks
d. Kertas boraks
3. Prosedur kerja
1. Timbang sampel sebanyak 25 gr
2. Haluskan dengan menggunakan lumpang
3. Tambahakan aquadest sebanyak 50 ml. aduk hingga homogen
4. Untuk sampel miniuman yang sudah cair, ambil 25 ml tambahkan aquadest sampai tanda 50 ml
5. Karena boraks dalam keadaan dingin memmbentuk garam sebaiknya sampel sebelum diperiksa dipanaskan terlebih dengan 800c selama 3-5 menit setelah tercapai.
6. Masukkan sampel sebanyak 5 ml ke dalam tabung
7. Tambahakan reagent boraks 1 sebanayak 3 tetes diaduk hingga rata.
8. Siapkan kertas boraks teteskan sampel pada perlakuan 2 pada permukaan 3 tetes dan diamk beberapa saat jika Pada boraks ( B4O72) akan terbentuk perubahan warna dari kuning menjadi merah.
9. Untuk lebih meyakinkan bandingkan dengan standart boraks.
D. Pemeriksaan Metanhyl Yellow pada makanan
1. Alat :
a. Lumpang
b. Petridish
c. Beaker glass
d. Pipet ukur
e. Pipet tetes
f. Cawan porselin
g. Tabung reaksi
2. Bahan :
a. Sampel makanan (kue bolu berwarna warni) minuman (jas jus)
b. Reagent Methanyl Yellow-1
c. Larutan standart warna methanyl yellow
d. Aquadest
3. Prosedur Kerja
1. Timbang sampel sebanyak 25 gr
2. Haluskan dengan menggunakan lumpang
3. Setelah itu tambahkan aquadest sampai tanda 50 ml.
4. Untuk sampel minuman yang sudah cair tidak perlu dilakukan perlakuan awal
5. Siapakan tabung reaksi, dan masukkan 0,5-1 ml sampel
6. Tambahkan Reagent Methanyl Yellow-1 sebanyak 2 tetes
7. Diamkan beberapa saat akan terbentuk warna merah muda seulas sampai pekat (merah tajam) menunjukkan methyl yellow positif
8. Bandingakan deret standar warna methyl yellow
9. Untuk lebih meyakinkan bandingkan dengan standart methanyl yellow yang diperluakan sebagian sampel
10. Bandingkan dengan larutan standart methanyl yellow
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
- pemeriksaan formalin pada makanan dilakukan dengan menimbang bahan / sampel yang akan diperiksa, menggerus dengan lumpang, menambahkan quadest, kemudian ditambahkan larutan FO-1 dan FO-2, lalu dibandingkan dengan larutan standar / warna yang umumnya mengandung formalin.Ada beberapa makanan yang umumnya disalahgunakan dengan penambahan formalin diantaranya adalah tahu, bakso, mie basah / kering, dan ikan basah. Dari makanan ini, umumnya makanan yang tergolong Perisahble Food (makanan yang tidak stabil mudah rusak).
- pemeriksaan rhodamin b jika sampel berbentuk warna ungu (violet) pada lapisan atas tabung reaksi , sampel positif mengandung rhodamin b
- pemeriksaan boraks pada makanan dengan menimbang sampel sebanyak 25 kg / 25 ml, dihaluskan (untuk sampel padat), tambahkan aquades sampai tanda 50 ml , kemudian sebelum diperiksa di panaskan di oven dengan suhu 80˚C selama 3-5 menit (karena dalam keadaan dingin boraks membentuk garam), masukkan sampel sebanyak 5 ml ke dalam tabung, tambahkan reagent Boraks 1-3 tetes, diamkan, kemudian akan terjadi perubahan warna kuning menjadi merah jika positif.
- pemeriksaan metanhyl yellow jika sampel warna kuning terang berpendar dan jika dipegang warna kuning akan menempel di kulit , sampel tersebut positi mengandung metahyl yellow
B. Saran
Dengan adanya makalah ini, para pembaca dapat menyadari seberapa penting kesehatan tubuh kita, agar selalu menjaga kekebalan tubuh dan tidak mengkonsumsi makanan – makanan yang tidak bersih dan selalu berhati – hati dalam memilih makanan yang akan dimakan/ diminum.
Daftar Pustaka
BPOM (2015). Formalin, Rhodamine-B, dan Borax Masih Beredar dalam Jajanan Pasar.
Budianto, Agus (2011). Formalin dalam kajian undang-undang kesehatan: Undang-Undang Pangan dan Perlindungan Konsumen. Jurnal Legislasi Indonesia, Vol. 8, No. 1.
Cahyadi, Wisnu (2009). Analisis dan aspek kesehatan bahan tambahan pangan. Jakarta: Bumi Aksara.
Effendi, Supli (2012). Teknologi pengolahan dan pengawetan pangan. Bandung: Alfabeta.
Jumat, 30 Maret 2018
Kamis, 22 Maret 2018
MATA KULIAH : PMM - A
DOSEN PENGAJAR : Khiki purnawati kasim, S.St.,M.Kes
LAPORAN PRATIKUM PEMERIKSAAN LOGAM BERAT SIANIDA (CN) (KALOAH) DAN TIMBAL BALIK (Pb) PADA MAKANAN (IKAN BAKAR)
DI SUSUN OLEH :
RISKI = PO.71.4.221.16.1.061
KELAS = D.IV/II.B
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLTEKKES KEMENKES MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PROGRAM D IV
2018
A. Latar Belakang
Logam berat adalah bahan-bahan alami yang berasal dan termasuk bahan penyusun lapisan tanah bumi. Logam berat tidak dapat diurai atau dimusnahkan. Logam berat dapat masuk ke dalam tubuh mahluk hidup melalui makanan, air minum, dan udara. Logam berat berbahaya karena cenderung terakumulasi di dalam tubuh mahluk hidup.
Logam berat merupakan salah satu komponen pencemar lingkungan, baik di darat, perairan maupun udara. Logam berat yang sering mencemari lingkungan terutama adalah merkuri (Hg), timbal (Pb), cadmium (Cd), arsenik (Ar), chromium (Cr), nikel (Ni) dan besi (Fe) (Palar, 2004). Salah satu lingkungan yang mudah tercemar yaitu perairan, sebab limbah dari industri berupa limbah cair kebanyakan langsung dibuang ke sungai tanpa diolah terlebih dahulu (Subanri, 2008). Hal tersebut dikarenakan banyak industri rumah tangga maupun pabrik ternyata belum mempunyai instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang baik atau sudah mempunyai tetapi tidak dioperasikan karena membutuhkan biaya yang tinggi. Logam berat juga mengendapkan senyawa posfat biologis atau mengkatalis penguraiannya. (Manahan1977, dalam Ernawati 2010) Logam berat adalah unsur alami dari kerak bumi. Logam yang stabil dan tidak bisa rusak atau hancur, oleh karena itu mereka cenderung menumpuk dalam tanah dan sedimen. Banyak istilah logam berat telah diajukan, berdasarkan kepadatan, nomor atom, berat atom, sifat kimia atau racun.
Adapun yang termasuk dari logam-logam berat yaitu Timbal Balik (Pb) dan Sianida (CN) biasanya Timbal Balik dan Sianida di dapatkan pada makanan seperti pada Bakwan udang dan Kaloah.maka dari itu perlu di lakukan pemeriksaan agar dapat di ketahui adanya logam-logam berat pada makanan yang berbahaya bagi kesehatan.
Timbal Balik adalah sebagai gas buang kendaraan bermotor dapat membahayakan kesehatan dan merusak lingkungan. Pb yang terhirup oleh manusia setiap hari akan diserap, disimpan dan kemudian ditampung dalam darah. Bentuk kimia Pb merupakan faktor penting yang mempengaruhi sifat-sifat Pb di dalam tubuh. Komponen Pb organik misalnya tetraethil Pb segara dapat terabsorbsi oleh tubuh melalui kulit dan membran mukosa. Pb organik diabsorbsi terutama melalui saluran pencernaan dan pernafasan dan merupakan sumber Pb utama di dalam tubuh. Tidak semua Pb yang terhisap atau tertelan ke dalam tubuh akan tertinggal di dalam tubuh. Kira-kira 5-10 % dari jumlah yang tertelan akan diabsorbsi melalui saluran pencernaan, dan kira-kira 30 % dari jumlah yang terisap melalui hidung akan diabsorbsi melalui saluran pernafasan akan tinggal di dalam tubuh karena dipengaruhi oleh ukuran partikel-partikelnya.
Sianida adalah elompok senyawa anorganik dan organik dengan siano (CN-) sebagai struktur utama. Sianida tersebar luas di perairan dan berada dalam bentuk ion sianida (CN-), hidrogen sianida (HCN-), dan metalosianida. Keberadaan sianida sangat dipengaruhi oleh pH, suhu, oksigen terlarut, salinitas dan keberadaan ion lain. Sianida dalam bentuk ion mudah terserap oleh bahan-bahan yang tersuspensi maupun oleh sedimen dasar. Sianida bersifat sangat reaktif. Sianida bebas menunjukkan adanya kadar HCN dan CN.
B. Tujuan
- Untuk Mengetahui Timbal (Pb) dan Sianida (Cn) Pada Ikan bakar dan Kaloah
C. Cara Kerja
1. Timbal (Pb)
- Alat :
1. Timbangan Digital
2. Glass Erlenmeyer
3. Gelas Ukur
4. Lumpang dan ALu
5. Gelas Sampel 5 ml
6. Spectroquant Nova 60
7. Beaker Glass
-Bahan:
1. Sampel Makanan (Bakwan Udang)
2. Aquadest
3. Reagen Pb
-Cara Kerja :
1. Sampel makanan (ikan bakar) ditimbang sebanyak 10 gr
2. Sampel dihaluskan dengan menggunakan lumping dan alu
3. Sampel dipindahkan kedalam gelas ukur
4. Kemudian tuangkan aquadest sedikit demi sedikit hingga 50 ml sambal diaduk
5. Sampel dimasukkan sebanyak 5 ml kedalam gelas sampel lalu tambahkan reagen Pb sebanyak 3 tetes
6. Sampel dituang kedalam cuvet dan diperiksa menggunankan Spectroquant Nova 60
Amati Hasilnya
2. Sianida (Cn)
- Alat :
1. Timbangan Digital
2. Glass Erlenmeyer
3. Gelas Ukur
4. Lumpang dan ALu
5. Gelas Sampel 10 ml
6. Botol Sianida Test
7. Beaker Glass
8. Sianida Test
-Bahan:
1. Sampel Makanan (Kaloah)
2. Aquadest
3. Reagent CN-1, CN-2, CN-3
-Cara Kerja :
1. Sampel makanan ditimbang sebanyak 10 ml
2. Sampel dihaluskan dengan menggunakan lumping dan alu
3. Sampel dipindahkan masuk ke dalam gelas ukur
4. Kemudian tuangkan aquadest sedikit demi sedikit hingga 50 ml dan sambal di aduk
5. Lalu satu botol sebagai perbandingan dan satu botol ditambahkan CN-1 sebanyak 1 sendok,CN-2 sebanyak 1 sendok dan CN-3 sebanyak 3 tetes
Diamkan selama 5 menit
Amati Hasilnya
D. Hasil dan Analisa Hasil
Hasil :
1. Timbal (Pb)
Sampel : ikan bakar
Tempat : pasar pabaeng - baeng
Tanggal/Waktu : 06 maret / pukul 13.00 – 15.00
Tujuan : Pemeriksaan Kadar Timbal (Pb) pada ikan bakar
Jumlah/Hasil Pemeriksaan (Pb): (9,16mg/l x 4 = 36,64mg/l)
2. Sianida (Sn)
Sampel : Kaloah
Tempat : Di daerah pasar pabaeng – baeng
Tanggal/Waktu : 06 maret / pukul 13.00 – 15.00
Tujuan : Pemeriksaan Kadar Sianida (Cn) pada kaloah
Jumlah/Hasil Pemeriksaan (Cn): (0 x4 = 0)
Analisa Hasil
1. Timbal (Pb)
Dari hasil pratikum pemeriksaan logam berat pada makanan yang menggunakan sampel makanan (ikan bakar) diperoleh hasil kadar pb yaitu : 9,16mg/l x 4 = 36,64mg/l).Hal tersebut disebabkan karena lokasi pengambilan sampel di pasar pabaeng - baeng terletak dipinggir jalan yang ramai kendaraan.
2. Sianida (Cn)
Dari hasil praktikum pemeriksaan logam berat pada makanan yang menggunakan sampel( kaloah) diperoleh hasil sianida (cn) yaitu 0 mg/l . Hal tersebut karena lokasi pengambilan sampel didaerah pasar pabaeng – baeng tidak tercemar limbah industri/penghasil logam berat lainnya.
E. Kesimpulan
1. Setelah melakukan pemeriksaan sampel (bakwan udang) kadar timbal (pb) pada sampel bakwan udang terdapat kandungan timbal yaitu : 36,64 mg/l.jumlah timbal yang terdeteksi berdasarkan BPOM nomor 23 tahun 2017 melebihi batas maksimum standard yang ditentukan yaitu 0,20 mg/kg.
2. Setelah melakukan pemeriksaan sampel (kaloah) kadar sianida (cn) pada sampel kaloah diketahui kandungan sianida yaitu 0 mg/l , jadi kaloah tersebut bisa dikonsumsi atau digunakan.
DAFTAR PUSTAKA
Moch Solikin, Dampak dan Upaya Pengendalian Gas Buang Kendaraan Bermotor,
Cakrawala Pendidikan No.3, Tahu XVI, Nov 1997.
Wardhana, A.W.2004.Dampak Pencemaran Lingkungan,
Yogyakarta : Penerbit Andi
Palar,H.2004. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat.
jakarta.PT Rineka Cipta
DOSEN PENGAJAR : Khiki purnawati kasim, S.St.,M.Kes
LAPORAN PRATIKUM PEMERIKSAAN LOGAM BERAT SIANIDA (CN) (KALOAH) DAN TIMBAL BALIK (Pb) PADA MAKANAN (IKAN BAKAR)
DI SUSUN OLEH :
RISKI = PO.71.4.221.16.1.061
KELAS = D.IV/II.B
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLTEKKES KEMENKES MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PROGRAM D IV
2018
A. Latar Belakang
Logam berat adalah bahan-bahan alami yang berasal dan termasuk bahan penyusun lapisan tanah bumi. Logam berat tidak dapat diurai atau dimusnahkan. Logam berat dapat masuk ke dalam tubuh mahluk hidup melalui makanan, air minum, dan udara. Logam berat berbahaya karena cenderung terakumulasi di dalam tubuh mahluk hidup.
Logam berat merupakan salah satu komponen pencemar lingkungan, baik di darat, perairan maupun udara. Logam berat yang sering mencemari lingkungan terutama adalah merkuri (Hg), timbal (Pb), cadmium (Cd), arsenik (Ar), chromium (Cr), nikel (Ni) dan besi (Fe) (Palar, 2004). Salah satu lingkungan yang mudah tercemar yaitu perairan, sebab limbah dari industri berupa limbah cair kebanyakan langsung dibuang ke sungai tanpa diolah terlebih dahulu (Subanri, 2008). Hal tersebut dikarenakan banyak industri rumah tangga maupun pabrik ternyata belum mempunyai instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang baik atau sudah mempunyai tetapi tidak dioperasikan karena membutuhkan biaya yang tinggi. Logam berat juga mengendapkan senyawa posfat biologis atau mengkatalis penguraiannya. (Manahan1977, dalam Ernawati 2010) Logam berat adalah unsur alami dari kerak bumi. Logam yang stabil dan tidak bisa rusak atau hancur, oleh karena itu mereka cenderung menumpuk dalam tanah dan sedimen. Banyak istilah logam berat telah diajukan, berdasarkan kepadatan, nomor atom, berat atom, sifat kimia atau racun.
Adapun yang termasuk dari logam-logam berat yaitu Timbal Balik (Pb) dan Sianida (CN) biasanya Timbal Balik dan Sianida di dapatkan pada makanan seperti pada Bakwan udang dan Kaloah.maka dari itu perlu di lakukan pemeriksaan agar dapat di ketahui adanya logam-logam berat pada makanan yang berbahaya bagi kesehatan.
Timbal Balik adalah sebagai gas buang kendaraan bermotor dapat membahayakan kesehatan dan merusak lingkungan. Pb yang terhirup oleh manusia setiap hari akan diserap, disimpan dan kemudian ditampung dalam darah. Bentuk kimia Pb merupakan faktor penting yang mempengaruhi sifat-sifat Pb di dalam tubuh. Komponen Pb organik misalnya tetraethil Pb segara dapat terabsorbsi oleh tubuh melalui kulit dan membran mukosa. Pb organik diabsorbsi terutama melalui saluran pencernaan dan pernafasan dan merupakan sumber Pb utama di dalam tubuh. Tidak semua Pb yang terhisap atau tertelan ke dalam tubuh akan tertinggal di dalam tubuh. Kira-kira 5-10 % dari jumlah yang tertelan akan diabsorbsi melalui saluran pencernaan, dan kira-kira 30 % dari jumlah yang terisap melalui hidung akan diabsorbsi melalui saluran pernafasan akan tinggal di dalam tubuh karena dipengaruhi oleh ukuran partikel-partikelnya.
Sianida adalah elompok senyawa anorganik dan organik dengan siano (CN-) sebagai struktur utama. Sianida tersebar luas di perairan dan berada dalam bentuk ion sianida (CN-), hidrogen sianida (HCN-), dan metalosianida. Keberadaan sianida sangat dipengaruhi oleh pH, suhu, oksigen terlarut, salinitas dan keberadaan ion lain. Sianida dalam bentuk ion mudah terserap oleh bahan-bahan yang tersuspensi maupun oleh sedimen dasar. Sianida bersifat sangat reaktif. Sianida bebas menunjukkan adanya kadar HCN dan CN.
B. Tujuan
- Untuk Mengetahui Timbal (Pb) dan Sianida (Cn) Pada Ikan bakar dan Kaloah
C. Cara Kerja
1. Timbal (Pb)
- Alat :
1. Timbangan Digital
2. Glass Erlenmeyer
3. Gelas Ukur
4. Lumpang dan ALu
5. Gelas Sampel 5 ml
6. Spectroquant Nova 60
7. Beaker Glass
-Bahan:
1. Sampel Makanan (Bakwan Udang)
2. Aquadest
3. Reagen Pb
-Cara Kerja :
1. Sampel makanan (ikan bakar) ditimbang sebanyak 10 gr
2. Sampel dihaluskan dengan menggunakan lumping dan alu
3. Sampel dipindahkan kedalam gelas ukur
4. Kemudian tuangkan aquadest sedikit demi sedikit hingga 50 ml sambal diaduk
5. Sampel dimasukkan sebanyak 5 ml kedalam gelas sampel lalu tambahkan reagen Pb sebanyak 3 tetes
6. Sampel dituang kedalam cuvet dan diperiksa menggunankan Spectroquant Nova 60
Amati Hasilnya
2. Sianida (Cn)
- Alat :
1. Timbangan Digital
2. Glass Erlenmeyer
3. Gelas Ukur
4. Lumpang dan ALu
5. Gelas Sampel 10 ml
6. Botol Sianida Test
7. Beaker Glass
8. Sianida Test
-Bahan:
1. Sampel Makanan (Kaloah)
2. Aquadest
3. Reagent CN-1, CN-2, CN-3
-Cara Kerja :
1. Sampel makanan ditimbang sebanyak 10 ml
2. Sampel dihaluskan dengan menggunakan lumping dan alu
3. Sampel dipindahkan masuk ke dalam gelas ukur
4. Kemudian tuangkan aquadest sedikit demi sedikit hingga 50 ml dan sambal di aduk
5. Lalu satu botol sebagai perbandingan dan satu botol ditambahkan CN-1 sebanyak 1 sendok,CN-2 sebanyak 1 sendok dan CN-3 sebanyak 3 tetes
Diamkan selama 5 menit
Amati Hasilnya
D. Hasil dan Analisa Hasil
Hasil :
1. Timbal (Pb)
Sampel : ikan bakar
Tempat : pasar pabaeng - baeng
Tanggal/Waktu : 06 maret / pukul 13.00 – 15.00
Tujuan : Pemeriksaan Kadar Timbal (Pb) pada ikan bakar
Jumlah/Hasil Pemeriksaan (Pb): (9,16mg/l x 4 = 36,64mg/l)
2. Sianida (Sn)
Sampel : Kaloah
Tempat : Di daerah pasar pabaeng – baeng
Tanggal/Waktu : 06 maret / pukul 13.00 – 15.00
Tujuan : Pemeriksaan Kadar Sianida (Cn) pada kaloah
Jumlah/Hasil Pemeriksaan (Cn): (0 x4 = 0)
Analisa Hasil
1. Timbal (Pb)
Dari hasil pratikum pemeriksaan logam berat pada makanan yang menggunakan sampel makanan (ikan bakar) diperoleh hasil kadar pb yaitu : 9,16mg/l x 4 = 36,64mg/l).Hal tersebut disebabkan karena lokasi pengambilan sampel di pasar pabaeng - baeng terletak dipinggir jalan yang ramai kendaraan.
2. Sianida (Cn)
Dari hasil praktikum pemeriksaan logam berat pada makanan yang menggunakan sampel( kaloah) diperoleh hasil sianida (cn) yaitu 0 mg/l . Hal tersebut karena lokasi pengambilan sampel didaerah pasar pabaeng – baeng tidak tercemar limbah industri/penghasil logam berat lainnya.
E. Kesimpulan
1. Setelah melakukan pemeriksaan sampel (bakwan udang) kadar timbal (pb) pada sampel bakwan udang terdapat kandungan timbal yaitu : 36,64 mg/l.jumlah timbal yang terdeteksi berdasarkan BPOM nomor 23 tahun 2017 melebihi batas maksimum standard yang ditentukan yaitu 0,20 mg/kg.
2. Setelah melakukan pemeriksaan sampel (kaloah) kadar sianida (cn) pada sampel kaloah diketahui kandungan sianida yaitu 0 mg/l , jadi kaloah tersebut bisa dikonsumsi atau digunakan.
DAFTAR PUSTAKA
Moch Solikin, Dampak dan Upaya Pengendalian Gas Buang Kendaraan Bermotor,
Cakrawala Pendidikan No.3, Tahu XVI, Nov 1997.
Wardhana, A.W.2004.Dampak Pencemaran Lingkungan,
Yogyakarta : Penerbit Andi
Palar,H.2004. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat.
jakarta.PT Rineka Cipta
Langganan:
Postingan (Atom)

